Kenapa Terlalu Ambisius Justru Membahayakan Karier?

0
35
Kenapa Terlalu Ambisius Justru Membahayakan Karier?

Kenapa Terlalu Ambisius Justru Membahayakan Karier? – Ambisi sering dipuji sebagai bahan bakar kesuksesan. Sejak awal masuk dunia kerja, banyak orang diajarkan untuk “punya target tinggi”, “jangan cepat puas”, dan “kejar posisi secepat mungkin”. Ambisi seolah menjadi tanda bahwa seseorang serius dengan kariernya. Namun ironisnya, di dunia kerja nyata, ambisi yang berlebihan justru bisa menjadi bumerang.

Tidak sedikit karier yang terhambat bukan karena kurang pintar atau kurang kerja keras, melainkan karena terlalu ingin cepat sampai.

Ambisi pada dasarnya bukan hal buruk. Tanpa ambisi, seseorang bisa terjebak di zona nyaman dan berhenti berkembang. Masalah muncul ketika ambisi berubah dari dorongan sehat menjadi tekanan berlebihan—baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Ambisi yang tidak terkendali sering membuat seseorang:

  • Terlalu fokus pada hasil, tapi mengabaikan proses

  • Sulit bekerja sama karena ingin selalu unggul

  • Tidak sabar membangun reputasi secara bertahap

Di titik ini, ambisi tidak lagi mendorong, melainkan menekan.

Salah satu risiko terbesar dari ambisi berlebihan adalah keputusan yang terburu-buru. Demi terlihat cepat naik, seseorang bisa:

  • Mengambil tanggung jawab yang belum siap ditangani

  • Menerima posisi tanpa memahami konsekuensinya

  • Mengorbankan kualitas demi kecepatan

Dari luar mungkin tampak progresif, tetapi dari dalam organisasi, ini sering terbaca sebagai kurang matang. Dunia kerja bukan hanya soal siapa yang paling cepat bergerak, tetapi siapa yang konsisten dan bisa diandalkan.

Karier tidak dibangun sendirian. Ada rekan kerja, atasan, dan tim yang terlibat. Orang yang terlalu ambisius sering—tanpa sadar—menampilkan sikap:

  • Terlalu kompetitif dalam situasi yang seharusnya kolaboratif

  • Sulit menerima masukan karena merasa “harus benar”

  • Terlihat ingin menonjol sendiri

Hal ini bisa memunculkan jarak emosional di lingkungan kerja. Padahal, dalam banyak organisasi, kepercayaan dan kenyamanan bekerja sama sering lebih menentukan daripada kemampuan teknis semata.

Banyak orang mengira atasan hanya mencari karyawan yang paling agresif dan penuh target. Kenyataannya, yang sering dipertahankan dan dipromosikan justru mereka yang:

  • Kerjanya stabil

  • Bisa mengelola emosi

  • Tidak panik saat tekanan datang

Ambisi yang terlalu terlihat kadang justru menimbulkan keraguan:
“Apakah dia bisa bekerja untuk tim, atau hanya untuk dirinya sendiri?”

Di dunia kerja jangka panjang, orang yang bisa bertahan sering lebih dihargai daripada yang hanya bersinar sesaat.

Kenapa Terlalu Ambisius Justru Membahayakan Karier?

Ambisi yang tidak diimbangi dengan kesadaran diri bisa menguras mental dan fisik. Terlalu memaksakan diri untuk selalu unggul membuat seseorang:

  • Sulit istirahat tanpa rasa bersalah

  • Terus membandingkan diri dengan orang lain

  • Merasa gagal meski sudah bekerja keras

Ironisnya, ketika kelelahan mental muncul, performa justru menurun. Pada titik ini, ambisi yang tadinya ingin membawa naik malah menarik ke bawah.

Salah satu kesalahan besar dalam dunia kerja modern adalah anggapan bahwa semua orang harus naik cepat. Padahal, setiap orang punya ritme belajar dan berkembang yang berbeda.

Ada fase dalam karier yang memang seharusnya digunakan untuk:

  • Mengamati

  • Mencoba

  • Melakukan kesalahan kecil

Ambisi yang sehat tahu kapan harus maju, dan kapan harus belajar diam-diam.

Perbedaannya sering kali bukan pada besar kecilnya target, tetapi pada cara menyikapinya.

Ambisi yang sehat:

  • Fokus pada pertumbuhan jangka panjang

  • Terbuka pada proses dan pembelajaran

  • Tidak mengorbankan nilai dan kesehatan

Ambisi yang berbahaya:

  • Terobsesi pada jabatan dan pengakuan

  • Tidak sabar dengan proses

  • Mengabaikan dampak ke diri sendiri dan lingkungan

Dunia kerja tidak menolak orang ambisius. Dunia kerja hanya menolak ambisi yang tidak dewasa.

Mengendalikan ambisi bukan berarti kehilangan arah. Justru sebaliknya, ini tanda bahwa seseorang mulai memahami medan permainan yang sesungguhnya.

Karier bukan sprint, tapi perjalanan panjang. Kadang melambat bukan berarti tertinggal, melainkan memastikan langkah tidak salah arah.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan:
“Seberapa tinggi ambisimu?”
melainkan:
“Seberapa siap kamu menanggung konsekuensinya?”

Baca Jugahttps://blog.kitakerja.co.id/bukan-soal-nasib-ini-alasan-kenapa-karier-seseorang-bisa-melompat-jauh/