Kenapa Banyak Orang Ingin Resign Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Pergi?

0
28
Kenapa Banyak Orang Ingin Resign Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Pergi?

Kenapa Banyak Orang Ingin Resign Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Pergi? – Hampir semua orang yang bekerja pernah berada di titik ini: membuka lowongan kerja diam-diam, menghela napas panjang setiap Senin pagi, lalu berkata dalam hati, “Aku pengin resign.”
Tapi hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan orang itu masih duduk di kursi yang sama, mengerjakan pekerjaan yang sama, dengan kelelahan yang juga sama.

Keinginan untuk resign ada, tapi langkah untuk benar-benar pergi terasa jauh lebih berat. Fenomena ini tidak terjadi pada satu atau dua orang saja—ia dialami oleh banyak pekerja, dari berbagai usia dan latar belakang. Pertanyaannya: kenapa begitu banyak orang ingin pergi, tapi memilih bertahan?

1. Bukan Tidak Berani, Tapi Terlalu Banyak yang Dipertaruhkan

Resign sering digambarkan sebagai keputusan berani. Padahal, dalam kenyataan, resign justru membutuhkan keamanan. Banyak orang menahan diri bukan karena pengecut, tapi karena ada terlalu banyak hal yang dipertaruhkan: cicilan, keluarga, biaya hidup, dan ketidakpastian masa depan.

Keberanian saja tidak cukup ketika hidup menuntut kestabilan. Dalam kondisi seperti ini, bertahan sering kali bukan pilihan ideal, tapi pilihan paling masuk akal.

2. Takut Pergi, Tapi Juga Takut Tetap Tinggal

Ironisnya, banyak orang terjebak di tengah-tengah. Pergi terasa menakutkan karena belum tentu mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tinggal pun melelahkan karena tekanan terus menumpuk.

Akhirnya, muncul kondisi “setengah bertahan”: bekerja secukupnya, berharap keadaan berubah dengan sendirinya, sambil terus mengeluh dalam diam. Bukan karena malas berubah, tapi karena takut salah langkah.

3. Lingkungan Kerja Menguras, Tapi Sudah Terlalu Dikenal

Lingkungan kerja yang tidak sehat sering kali menjadi alasan utama ingin resign. Namun, lingkungan itu juga sudah terlalu familiar. Orang-orangnya dikenal, alurnya dipahami, dan risikonya bisa ditebak.

Masuk ke tempat baru berarti memulai dari nol lagi: adaptasi, pembuktian diri, dan ketidakpastian. Banyak orang akhirnya memilih kelelahan yang sudah dikenal daripada risiko yang belum tentu lebih baik.

Kenapa Banyak Orang Ingin Resign Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Pergi?

4. Identitas Diri Terlanjur Melekat pada Pekerjaan

Tanpa disadari, pekerjaan sering menjadi bagian dari identitas diri. Jabatan, status, dan rutinitas membuat seseorang merasa “punya posisi” dalam hidupnya. Ketika ingin resign, yang dipertanyakan bukan hanya pekerjaan, tapi juga “Aku ini siapa kalau tidak bekerja di sini?”

Kehilangan pekerjaan terasa seperti kehilangan arah, dan tidak semua orang siap menghadapi kekosongan itu.

5. Harapan Kecil yang Terus Dipelihara

Banyak orang bertahan karena satu harapan kecil:
“Mungkin nanti atasan berubah.”
“Mungkin tahun depan lebih baik.”
“Mungkin aku yang terlalu capek sekarang.”

Harapan ini sering menjadi alasan paling halus tapi paling kuat. Meski berkali-kali dikecewakan, harapan membuat orang bertahan sedikit lebih lama, lalu sedikit lebih lama lagi.

6. Resign Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah

Yang jarang dibicarakan: resign bukan solusi ajaib. Banyak orang sadar bahwa masalah yang mereka hadapi bukan hanya di kantor, tapi juga kelelahan mental, kehilangan arah, atau tekanan hidup secara keseluruhan.

Pergi tanpa kesiapan justru bisa menambah beban baru. Karena itu, sebagian orang memilih bertahan sambil mencari cara bertahan hidup—meski dengan energi yang semakin menipis.

7. Bertahan Juga Bentuk Perjuangan

Tidak semua orang yang bertahan itu lemah. Ada yang bertahan karena sedang mengumpulkan tenaga, menyiapkan rencana, atau sekadar mencoba menjaga kewarasan di tengah keterbatasan.

Bertahan bukan selalu tanda menyerah. Kadang, itu adalah bentuk perjuangan yang paling sunyi dan paling tidak terlihat.

Keinginan resign adalah sinyal, bukan kegagalan. Ia menandakan ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dan perlu diperhatikan. Entah itu lingkungan kerja, arah hidup, atau kondisi mental.

Jika hari ini seseorang belum bisa pergi, itu bukan berarti ia gagal. Setiap orang punya waktu dan caranya sendiri. Yang terpenting adalah tetap jujur pada diri sendiri, menjaga kesehatan mental, dan perlahan menyusun langkah—entah untuk bertahan dengan sadar, atau pergi dengan lebih siap.

Karena dalam dunia kerja yang keras, bertahan hidup dengan waras adalah pencapaian yang sering diremehkan, tapi sangat berharga.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/realita-dunia-kerja-yang-jarang-dibahas-di-seminar-dan-motivasi/