Kenapa Banyak Profesional Berhenti Diam-Diam Tanpa Resign?

0
16
Kenapa Banyak Profesional Berhenti Diam-Diam Tanpa Resign?

Kenapa Banyak Profesional Berhenti Diam-Diam Tanpa Resign? – Di dunia kerja, kita sering mendengar istilah “quiet quitting” atau berhenti diam-diam. Fenomena ini terjadi ketika seorang profesional tetap datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, tapi secara mental dan emosional sudah tidak lagi “terikat” dengan pekerjaan atau perusahaan mereka. Mereka terlihat hadir, tapi sebenarnya sudah mundur dari ambisi, antusiasme, dan dedikasi ekstra.

Lalu, kenapa banyak profesional memilih berhenti diam-diam tanpa benar-benar mengajukan resign?

1. Tekanan Ekspektasi dan Budaya Kerja

Banyak perusahaan menuntut karyawan untuk selalu “lebih”: lembur, multitasking, target tinggi, dan performa konsisten. Tak jarang, profesional merasa bahwa usaha ekstra mereka jarang dihargai, atau promosi dan kenaikan gaji tidak sebanding dengan kerja keras mereka.

Ketika tekanan menjadi lebih besar daripada reward, muncul perasaan lelah mental. Alih-alih mengambil langkah drastis untuk resign, mereka memilih untuk tetap berada di tempat kerja, tapi menurunkan energi dan komitmen mereka—sebagai bentuk perlindungan diri.

2. Ketakutan Akan Ketidakpastian

Meninggalkan pekerjaan bukan hanya soal gaji, tapi juga soal keamanan finansial, tunjangan, dan stabilitas. Banyak profesional takut mengambil risiko, apalagi jika situasi ekonomi tidak pasti atau mereka tidak punya alternatif pekerjaan yang jelas.

Dalam kondisi ini, “berhenti diam-diam” menjadi jalan tengah: mereka menjaga keamanan finansial sambil menjaga kesehatan mental mereka sendiri.

3. Kurangnya Motivasi dan Koneksi Emosional

Banyak profesional yang awalnya antusias dengan pekerjaannya lama-lama kehilangan rasa terhubung. Bisa karena pekerjaan terasa monoton, manajemen yang buruk, atau nilai perusahaan tidak sejalan dengan pribadi mereka.

Ketika motivasi hilang, energi mereka untuk berinovasi, berkontribusi lebih, atau ikut proyek ekstra pun ikut surut. Tapi tetap hadir, karena mereka merasa sulit untuk sepenuhnya melepaskan diri tanpa persiapan yang matang.

4. Strategi Bertahan Tanpa Risiko

Berhenti diam-diam juga bisa menjadi strategi: menjaga reputasi profesional sambil menunggu peluang lain. Mereka tetap “aman” di mata atasan, tidak membuat konflik, dan menjaga opsi mereka terbuka untuk masa depan.

Ini adalah cara elegan untuk menjaga diri tetap sehat secara mental tanpa harus menghadapi konsekuensi langsung dari resign, terutama jika mereka masih menunggu kesempatan kerja yang lebih baik atau ingin menyiapkan rencana transisi.

Kenapa Banyak Profesional Berhenti Diam-Diam Tanpa Resign?

5. Apa Dampaknya untuk Profesional Itu Sendiri?

Berhenti diam-diam bisa terasa menenangkan sementara, tapi kalau terlalu lama, bisa menimbulkan dampak negatif:

  • Merasa bosan atau kehilangan identitas profesional.

  • Terlewatkan peluang pengembangan diri dan promosi.

  • Hubungan dengan rekan kerja dan atasan bisa menjadi dingin.

Namun, jika dilakukan dengan kesadaran, ini bisa menjadi momen introspeksi: memahami apa yang sebenarnya diinginkan dari karier, tanpa harus terburu-buru membuat keputusan drastis.

6. Cara Menghadapinya dengan Bijak

Jika kamu merasa berada di posisi ini, beberapa langkah bisa membantu:

  1. Refleksi diri: Apa yang membuatmu kehilangan motivasi? Apakah karena pekerjaan, manajemen, atau lingkungan?

  2. Komunikasi: Diskusikan kebutuhanmu dengan atasan atau HR, misalnya fleksibilitas kerja atau proyek yang lebih menantang.

  3. Perencanaan karier: Mulai siapkan skill baru, jaringan, dan peluang lain sebelum memutuskan resign.

  4. Tetap profesional: Jangan biarkan “quiet quitting” merusak reputasi. Tetap kerjakan tanggung jawab utama dengan baik.

Berhenti diam-diam bukan tanda kelemahan atau kegagalan profesional. Ini adalah refleksi dari tekanan kerja modern, ketidakpastian, dan kebutuhan menjaga kesehatan mental. Fenomena ini mengajarkan kita bahwa kesadaran diri dan keseimbangan hidup lebih penting daripada sekadar hadir di kantor.

Bagi perusahaan, fenomena ini menjadi sinyal: penting untuk mendengar, menghargai, dan menjaga keterikatan karyawan sebelum talenta terbaik “menghilang diam-diam”.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/kerja-tenang-tanpa-drama-tren-baru-yang-diam-diam-diincar-profesional-muda/