Rekrutmen Modern Lebih Cepat, Tapi Juga Lebih Kejam

0
7
Rekrutmen Modern Lebih Cepat, Tapi Juga Lebih Kejam-

Rekrutmen Modern Lebih Cepat, Tapi Juga Lebih Kejam– Mencari kerja hari ini terasa sangat berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Prosesnya lebih cepat, lebih digital, dan terlihat lebih efisien. Namun di balik kemudahan itu, banyak pencari kerja merasakan satu hal yang sama: rekrutmen modern terasa dingin, kompetitif, dan sering kali kejam.

Bukan karena niat buruk, melainkan karena sistem yang berubah drastis.

Teknologi mengubah cara perusahaan merekrut. CV dikirim dalam hitungan detik, wawancara dilakukan secara daring, dan keputusan bisa muncul hanya beberapa hari—bahkan jam. Dari sudut pandang perusahaan, ini adalah kemajuan besar. Proses yang dulu memakan waktu berminggu-minggu kini bisa dipangkas secara signifikan.

Namun, kecepatan ini membawa konsekuensi. Waktu untuk mengenal kandidat semakin sempit, begitu pula kesempatan kandidat untuk menunjukkan potensi di luar angka dan dokumen.

Banyak perusahaan kini mengandalkan sistem otomatis untuk menyaring pelamar. Kata kunci di CV, format dokumen, hingga skor kecocokan menjadi penentu awal. Masalahnya, sistem tidak selalu memahami konteks manusia.

Kandidat dengan pengalaman relevan bisa gugur hanya karena:

  • CV tidak sesuai format

  • Tidak menggunakan kata kunci tertentu

  • Latar belakang karier dianggap “tidak lurus”

Di sisi lain, pencari kerja sering kali tidak mendapat penjelasan apa pun. Tidak lolos, tanpa umpan balik. Sunyi menjadi jawaban yang paling sering diterima.

Rekrutmen modern memperluas akses. Satu lowongan bisa dilamar ratusan hingga ribuan orang dari berbagai daerah. Di atas kertas, ini terlihat adil. Namun pada praktiknya, persaingan menjadi sangat ketat.

Sedikit kesalahan bisa berarti tersingkir. Sedikit keterlambatan bisa membuat peluang hilang. Tidak semua kandidat berada di garis start yang sama, tetapi sistem memperlakukan mereka seolah setara.

Dulu, rekrutmen lebih banyak menilai potensi. Kini, fokusnya bergeser pada kecocokan instan. Kandidat diharapkan siap pakai, minim pelatihan, dan langsung produktif.

Akibatnya, banyak orang merasa:

  • Tidak cukup baik meski berpengalaman

  • Terlalu umum di tengah tuntutan spesialisasi

  • Tidak punya ruang untuk berkembang

Rekrutmen yang cepat cenderung mencari yang “paling pas sekarang”, bukan yang “paling bisa tumbuh”.

Penolakan berulang, minimnya umpan balik, dan proses yang terasa impersonal berdampak pada kondisi mental pencari kerja. Rasa ragu terhadap diri sendiri tumbuh, meski kemampuan sebenarnya tidak berubah.

Ironisnya, sistem yang dirancang untuk efisiensi sering kali mengabaikan aspek emosional manusia yang berada di dalamnya.

Rekrutmen Modern Lebih Cepat, Tapi Juga Lebih Kejam

Tidak. Rekrutmen modern juga membuka banyak peluang:

  • Akses kerja lintas wilayah

  • Proses yang lebih transparan

  • Kesempatan bagi talenta yang sebelumnya terpinggirkan

Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan cara manusia menggunakannya. Ketika kecepatan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, sisi kemanusiaan perlahan tergerus.

Rekrutmen tidak harus lambat untuk menjadi adil, dan tidak harus kejam untuk menjadi efisien. Perusahaan dapat:

  • Memberikan umpan balik sederhana

  • Melihat potensi, bukan hanya kecocokan instan

  • Mengingat bahwa di balik setiap CV, ada manusia dengan cerita

Bagi pencari kerja, memahami realita ini bukan untuk menyerah, tetapi untuk menyesuaikan strategi—tanpa kehilangan harga diri.

Rekrutmen modern memang lebih cepat. Dunia kerja bergerak dengan ritme yang semakin padat. Namun, kecepatan seharusnya tidak menghilangkan empati.

Karena pada akhirnya, rekrutmen bukan sekadar proses mengisi posisi kosong, melainkan pertemuan antara kebutuhan perusahaan dan harapan manusia. Dan di titik itulah, kemanusiaan seharusnya tetap punya tempat.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/budaya-kerja-positif-itu-nyata-dan-bisa-diukur/