Burnout di Tempat Kerja: Masalah Pribadi atau Sistem Kerja?

0
4
Burnout di Tempat Kerja: Masalah Pribadi atau Sistem Kerja?

Burnout di Tempat Kerja: Masalah Pribadi atau Sistem Kerja? – Burnout bukan lagi istilah asing di dunia kerja. Banyak orang mengalaminya, tetapi tidak selalu menyadarinya. Rasa lelah yang berkepanjangan, kehilangan motivasi, mudah marah, hingga merasa kosong terhadap pekerjaan yang dulu disukai sering dianggap sebagai kelelahan biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda burnout, sebuah kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tekanan kerja yang terus-menerus.

Ketika seseorang mengalami burnout, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah ini masalah pribadi, atau justru akibat dari sistem kerja yang tidak sehat? Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. Burnout sering kali lahir dari pertemuan antara tuntutan sistem kerja dan kemampuan individu dalam menghadapinya.

Dari sisi pribadi, setiap orang memiliki batas energi dan cara mengelola stres yang berbeda. Ada yang mampu bertahan di bawah tekanan tinggi, ada pula yang lebih cepat merasa kewalahan. Kurangnya waktu istirahat, kesulitan mengatakan “tidak”, atau kebiasaan menyalahkan diri sendiri saat gagal bisa mempercepat datangnya burnout. Dalam kondisi ini, individu sering merasa bahwa dirinya tidak cukup kuat, tidak cukup kompeten, atau tidak cukup produktif.

Namun, menyederhanakan burnout sebagai kelemahan pribadi adalah pandangan yang tidak adil. Banyak kasus burnout justru berakar dari sistem kerja yang menuntut berlebihan. Target yang tidak realistis, jam kerja panjang tanpa batas jelas, beban kerja yang tidak seimbang, serta budaya kerja yang mengagungkan lembur dan pengorbanan pribadi menjadi pemicu utama. Dalam sistem seperti ini, kelelahan bukan lagi kemungkinan, melainkan konsekuensi yang hampir pasti.

Burnout di Tempat Kerja: Masalah Pribadi atau Sistem Kerja?

Masalah semakin rumit ketika lingkungan kerja tidak memberi ruang untuk berbicara tentang kelelahan. Karyawan yang mengeluh sering dianggap kurang profesional atau tidak tahan tekanan. Akibatnya, banyak orang memilih diam, memaksakan diri, dan terus bekerja meski kondisi mentalnya memburuk. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga organisasi itu sendiri karena menurunkan kualitas kerja dan meningkatkan risiko konflik serta kesalahan.

Burnout juga tidak berhenti di tempat kerja. Dampaknya merembet ke kehidupan pribadi. Hubungan dengan keluarga menjadi renggang, waktu istirahat tidak berkualitas, dan kesehatan fisik ikut terganggu. Pada titik ini, burnout bukan lagi sekadar urusan karier, melainkan masalah kualitas hidup secara keseluruhan.

Menghadapi burnout membutuhkan upaya dari dua arah. Dari sisi individu, penting untuk mengenali batas diri, berani beristirahat, dan mencari dukungan ketika merasa kewalahan. Merawat kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Sementara itu, dari sisi sistem kerja, diperlukan perubahan nyata: pembagian beban kerja yang adil, jam kerja yang manusiawi, serta budaya kerja yang menghargai keseimbangan hidup.

Burnout bukan semata-mata masalah pribadi, dan juga bukan sepenuhnya kesalahan sistem. Ia adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang. Ketika sinyal ini didengar dan ditanggapi dengan serius, baik oleh individu maupun oleh organisasi, dunia kerja bisa menjadi ruang yang lebih sehat, produktif, dan manusiawi. Karena pada akhirnya, bekerja seharusnya menjadi bagian dari hidup, bukan sesuatu yang perlahan menghabiskannya.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/ketika-masalah-kerja-terbawa-ke-rumah/