Quiet Quitting atau Self-Preservation? Fenomena Baru di Dunia Kerja – Belakangan ini, istilah quiet quitting semakin sering terdengar di berbagai percakapan tentang dunia kerja. Sekilas, istilah ini terdengar seperti bentuk “menyerah diam-diam” terhadap pekerjaan. Namun, jika dilihat lebih dalam, fenomena ini tidak sesederhana itu. Di baliknya, ada pertanyaan yang lebih penting: apakah ini benar-benar bentuk kemalasan, atau justru cara seseorang melindungi dirinya sendiri?
Quiet quitting sebenarnya bukan berarti seseorang benar-benar berhenti bekerja. Mereka tetap menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya, tetapi tidak lagi melakukan “usaha ekstra” di luar apa yang diwajibkan. Tidak ada lagi lembur tanpa alasan jelas, tidak lagi merasa harus selalu tersedia di luar jam kerja, dan tidak lagi mengorbankan waktu pribadi demi pekerjaan yang tak ada habisnya.
Di satu sisi, fenomena ini sering dipandang negatif. Ada anggapan bahwa pekerja menjadi kurang berkomitmen atau kehilangan semangat. Namun di sisi lain, banyak yang melihat ini sebagai bentuk self-preservation—upaya menjaga kesehatan mental, energi, dan batas diri di tengah tuntutan kerja yang semakin tinggi.
Realitanya, dunia kerja modern sering kali mendorong budaya always-on, di mana seseorang diharapkan selalu siap, responsif, dan produktif sepanjang waktu. Batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi kabur. Dalam kondisi seperti ini, quiet quitting bisa muncul sebagai respon alami. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena lelah terus-menerus berada dalam tekanan yang tak terlihat.
Menariknya, generasi pekerja saat ini mulai lebih sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Mereka tidak lagi melihat kerja sebagai satu-satunya sumber identitas diri. Waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan kesehatan mental menjadi prioritas yang semakin diperjuangkan. Dari sudut pandang ini, quiet quitting justru bisa dilihat sebagai bentuk penyesuaian terhadap realitas yang lebih sehat.
Quiet Quitting atau Self-Preservation? Fenomena Baru di Dunia Kerja
Namun, tetap ada hal yang perlu diperhatikan. Jika quiet quitting dilakukan tanpa komunikasi, hal ini bisa menimbulkan kesalahpahaman di tempat kerja. Atasan mungkin menganggap kinerja menurun, sementara rekan kerja merasa terbebani. Oleh karena itu, penting untuk tetap menjaga transparansi—misalnya dengan menetapkan batasan kerja secara jelas dan profesional.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi refleksi bagi perusahaan. Apakah lingkungan kerja yang ada sudah cukup sehat? Apakah beban kerja realistis? Apakah karyawan merasa dihargai? Quiet quitting bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki, bukan sekadar perilaku individu yang harus dikoreksi.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “quiet quitting itu baik atau buruk,” melainkan “apa yang membuat seseorang sampai memilih melakukannya?” Ketika seseorang mulai menarik diri dari keterlibatan berlebih, sering kali itu adalah tanda bahwa mereka sedang mencoba bertahan.
Jadi, quiet quitting atau self-preservation? Jawabannya bisa jadi keduanya. Di tengah dunia kerja yang terus bergerak cepat, mungkin ini adalah cara baru bagi banyak orang untuk berkata, “Saya tetap bekerja, tapi saya juga ingin tetap utuh.”
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/saat-pekerjaan-terasa-menguras-tapi-sulit-dijelaskan-kenapa/






