Atasan Galak atau Kurang Komunikasi? Cara Menghadapinya dengan Cerdas

0
10
Atasan Galak atau Kurang Komunikasi? Cara Menghadapinya dengan Cerdas

Atasan Galak atau Kurang Komunikasi? Cara Menghadapinya dengan Cerdas –Tidak semua orang beruntung memiliki atasan yang hangat dan mudah diajak berdiskusi. Di beberapa tempat kerja, ada atasan yang dikenal tegas, keras, bahkan terkesan galak. Suaranya tinggi saat memberi arahan, wajahnya jarang tersenyum, dan kritiknya terasa tajam. Situasi seperti ini sering membuat karyawan bertanya-tanya: sebenarnya atasan saya galak, atau hanya kurang komunikasi?

Pertanyaan itu penting. Sebab cara kita menyikapi keduanya bisa sangat berbeda.

Ada atasan yang terbiasa berbicara lugas dan langsung pada inti masalah. Tidak banyak basa-basi, tidak terlalu peduli dengan nada suara, dan fokus pada hasil. Bagi sebagian orang, gaya seperti ini terasa menekan. Namun bagi yang lain, itu dianggap efisien.

Masalah muncul ketika penyampaian pesan tidak diimbangi dengan empati. Kritik yang seharusnya membangun bisa terdengar seperti serangan pribadi. Padahal, belum tentu niatnya demikian. Bisa jadi atasan sedang berada di bawah tekanan target, tuntutan manajemen, atau beban tanggung jawab yang besar.

Di sinilah pentingnya memilah: apakah ia benar-benar memperlakukan bawahan dengan tidak hormat, atau hanya kurang terampil menyampaikan pesan?

Menghadapi atasan yang terkesan galak bukan hal mudah. Ada rasa cemas setiap kali dipanggil ke ruangan. Ada kekhawatiran saat mengirim laporan. Bahkan ada yang membawa tekanan itu sampai ke rumah.

Perasaan seperti ini valid. Kita bukan robot yang kebal terhadap nada tinggi atau ekspresi tajam. Namun jika dibiarkan, tekanan emosional bisa memengaruhi performa kerja dan kepercayaan diri.

Alih-alih memendam atau langsung menyimpulkan yang terburuk, ada baiknya mengambil jarak sejenak secara emosional. Tanyakan pada diri sendiri: bagian mana yang membuat saya tertekan? Apakah isi pesannya, atau cara penyampaiannya?

Menghadapi atasan yang keras membutuhkan strategi, bukan emosi sesaat. Berikut beberapa pendekatan yang bisa dicoba:

1. Fokus pada isi, bukan nada.
Kadang pesan yang disampaikan sebenarnya masuk akal, hanya cara penyampaiannya yang kurang nyaman. Cobalah menangkap inti instruksinya dan jadikan itu sebagai bahan perbaikan.

2. Perjelas ekspektasi.
Jika sering dimarahi karena dianggap salah, mungkin ada miskomunikasi soal standar kerja. Jangan ragu bertanya dengan sopan, seperti: “Untuk tugas ini, prioritas utamanya apa, Pak/Bu?” Pertanyaan sederhana bisa mencegah kesalahpahaman berulang.

3. Bangun komunikasi dua arah.
Pilih waktu yang tepat untuk berbicara secara pribadi. Sampaikan dengan tenang bahwa Anda ingin bekerja lebih efektif dan membutuhkan arahan yang jelas. Hindari nada menyalahkan. Gunakan kalimat yang berfokus pada solusi.

4. Jaga profesionalisme.
Membalas dengan emosi hanya akan memperkeruh keadaan. Tetap tenang, catat arahan, dan tunjukkan tanggung jawab. Profesionalisme sering kali menjadi “tameng” terbaik dalam situasi sulit.

5. Kenali batas diri.
Jika perlakuan sudah mengarah pada perendahan, intimidasi, atau tidak menghargai martabat, itu bukan lagi soal gaya komunikasi. Dalam kondisi seperti itu, penting mencari dukungan—baik dari HR maupun pihak yang berwenang.

Atasan Galak atau Kurang Komunikasi? Cara Menghadapinya dengan Cerdas

Tidak semua atasan yang terlihat galak berniat menyakiti. Ada yang tumbuh dalam budaya kerja keras tanpa banyak apresiasi. Ada pula yang tidak pernah diajarkan cara memimpin dengan empati.

Memahami ini bukan berarti membenarkan sikap yang salah, tetapi membantu kita merespons dengan lebih bijak. Kadang, perubahan kecil dari cara kita berkomunikasi bisa memengaruhi dinamika hubungan kerja.

Menghadapi atasan yang sulit memang menantang. Namun pengalaman ini juga bisa melatih ketahanan mental, kecerdasan emosional, dan kemampuan komunikasi kita. Kita belajar mengelola reaksi, menyampaikan pendapat dengan lebih terstruktur, dan memahami karakter orang yang berbeda-beda.

Pada akhirnya, dunia kerja mempertemukan banyak kepribadian. Tidak semuanya akan cocok dengan kita. Namun dengan pendekatan yang cerdas dan sikap profesional, situasi yang awalnya terasa menekan bisa menjadi ruang belajar yang berharga.

Karena bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang bertumbuh sebagai pribadi—bahkan ketika dihadapkan pada atasan yang tampak galak atau kurang komunikasi.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/gen-z-di-dunia-kerja-idealisme-vs-realita-kantor/