Bekerja Hari Ini Bukan Tentang Masa Depan, Tapi Bertahan Minggu Ini

0
23
Bekerja Hari Ini Bukan Tentang Masa Depan, Tapi Bertahan Minggu Ini

Bekerja Hari Ini Bukan Tentang Masa Depan, Tapi Bertahan Minggu Ini – Dulu, bekerja selalu dikaitkan dengan masa depan. Karier yang menanjak, gaji yang terus naik, dan kehidupan yang perlahan menjadi lebih mapan. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa selama bekerja keras dan sabar, masa depan akan mengurus dirinya sendiri.

Namun hari ini, realitasnya terasa berbeda.

Bagi banyak pekerja, bekerja bukan lagi soal mimpi lima atau sepuluh tahun ke depan. Bekerja adalah tentang bertahan hari ini, menyelesaikan minggu ini, dan memastikan hidup tidak runtuh sebelum akhir bulan.

Tekanan di dunia kerja kini datang dari berbagai arah. Target yang makin tinggi, tuntutan multitasking, teknologi yang bergerak terlalu cepat, dan rasa aman yang semakin rapuh. Banyak orang bangun pagi bukan dengan semangat mengejar cita-cita, tetapi dengan pertanyaan sederhana: “Aku kuat sampai Jumat, nggak ya?”

Kontrak kerja yang tidak pasti, restrukturisasi, PHK mendadak, hingga persaingan yang semakin ketat membuat masa depan terasa kabur. Bahkan mereka yang sudah bekerja bertahun-tahun pun sering merasa posisinya tidak pernah benar-benar aman.

Di kondisi seperti ini, wajar jika fokus seseorang menyempit. Bukan karena tidak punya visi, tetapi karena energi habis untuk bertahan.

Sayangnya, bertahan sering dianggap negatif. Seolah-olah orang yang hanya ingin “selamat minggu ini” adalah orang yang tidak ambisius atau kurang berjuang. Padahal, bertahan di tengah tekanan yang terus-menerus justru membutuhkan kekuatan mental yang besar.

Datang tepat waktu saat hati sedang lelah. Tetap profesional meski pikiran penuh. Menyelesaikan pekerjaan sambil menyimpan kecemasan pribadi. Semua itu adalah bentuk daya tahan yang jarang diapresiasi.

Tidak semua orang sedang dalam fase membangun mimpi besar. Ada yang sedang dalam fase menjaga diri agar tidak runtuh. Dan itu tidak apa-apa.

Banyak nasihat karier masih berbicara soal “lima tahun ke depan”, “peta karier”, dan “tujuan besar”. Nasihat ini tidak salah, tetapi sering kali tidak relevan bagi mereka yang sedang berjuang di kondisi sulit.

Bagi sebagian orang, tujuan hari ini sederhana:
gaji cukup sampai akhir bulan, kesehatan mental tetap terjaga, dan pekerjaan tidak menelan seluruh hidupnya.

Masa depan tidak ditinggalkan. Ia hanya ditunda sementara, menunggu kondisi yang lebih stabil.

Bekerja Hari Ini Bukan Tentang Masa Depan, Tapi Bertahan Minggu Ini

Kita jarang jujur soal betapa melelahkannya dunia kerja saat ini. Media sosial dipenuhi kisah sukses, produktivitas tanpa henti, dan pencapaian yang tampak mulus. Padahal, di balik layar, banyak orang sedang menahan lelah, bingung arah, dan takut gagal.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti berpura-pura bahwa semua orang sedang mengejar mimpi besar. Sebagian dari kita sedang belajar bernapas, satu minggu ke minggu berikutnya.

Dan itu manusiawi.

Ironisnya, bertahan hari ini justru adalah fondasi dari masa depan itu sendiri. Tidak ada rencana jangka panjang tanpa kesehatan mental. Tidak ada karier gemilang tanpa kemampuan bertahan di masa sulit.

Jika hari ini kamu bekerja bukan untuk masa depan yang jauh, melainkan untuk bertahan minggu ini, kamu tidak sendirian. Itu bukan kegagalan. Itu adalah respons wajar terhadap dunia yang berubah terlalu cepat.

Mungkin suatu hari nanti, ketika keadaan lebih tenang, mimpi besar itu akan kembali disusun. Untuk sekarang, cukup bertahan. Itu sudah lebih dari cukup.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/strategi-networking-yang-jarang-diajarkan-tapi-bisa-membuka-kesempatan-emas/