Belajar dari Kritik: Cara Dewasa Menghadapi Teguran di Tempat Kerja

0
8
Belajar dari Kritik: Cara Dewasa Menghadapi Teguran di Tempat Kerja

Belajar dari Kritik: Cara Dewasa Menghadapi Teguran di Tempat Kerja – Tidak ada yang benar-benar nyaman saat menerima teguran. Sekuat apa pun kita terlihat, ada rasa tidak enak ketika nama kita dipanggil lalu diberi catatan tentang kesalahan. Jantung berdebar sedikit lebih cepat, pikiran langsung bertanya-tanya, “Apa yang salah?” atau bahkan, “Apakah saya tidak cukup baik?”

Teguran di tempat kerja sering terasa seperti serangan pribadi. Padahal, tidak selalu demikian. Di balik kritik, sering tersembunyi kesempatan untuk tumbuh—meski cara penyampaiannya kadang kurang menyenangkan.

Sebagian dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa melakukan kesalahan adalah sesuatu yang memalukan. Akibatnya, ketika ditegur, yang terasa bukan hanya koreksi atas pekerjaan, tetapi juga ancaman terhadap harga diri.

Kita takut dianggap tidak kompeten. Takut mengecewakan atasan. Takut dinilai kurang mampu dibanding rekan kerja. Semua ketakutan itu bercampur, membuat satu kalimat teguran terasa jauh lebih besar dari yang sebenarnya.

Padahal, bekerja berarti terus belajar. Dan belajar hampir selalu melibatkan koreksi.

Salah satu langkah paling dewasa dalam menghadapi kritik adalah memisahkan diri kita dari kesalahan yang dilakukan.

Kita melakukan kesalahan.
Tapi kita bukan kesalahan itu sendiri.

Ini perbedaan yang sangat penting. Ketika laporan kita perlu direvisi, itu bukan berarti kita tidak cerdas. Ketika presentasi kita dikritik, itu bukan berarti kita tidak berbakat. Itu hanya berarti ada ruang untuk perbaikan.

Melihat kritik sebagai umpan balik, bukan penghakiman, membantu kita tetap tenang dan objektif.

Belajar dari Kritik: Cara Dewasa Menghadapi Teguran di Tempat Kerja

Respons pertama saat ditegur sering kali bersifat defensif. Ingin menjelaskan, membela diri, atau bahkan menyalahkan keadaan. Itu reaksi manusiawi.

Namun kedewasaan muncul ketika kita memilih untuk mendengar sampai selesai.

Biarkan atasan atau rekan kerja menyampaikan poinnya. Catat inti pesannya. Tanyakan dengan tenang jika ada yang kurang jelas. Sikap ini menunjukkan profesionalisme, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih sehat.

Terkadang, cara penyampaian memang kurang tepat. Tetapi kita tetap bisa memilih respons yang bijak.

Tidak semua kritik langsung bisa diterima dengan lapang dada. Ada kalanya kita perlu waktu untuk mencerna.

Ambil jeda. Tarik napas dalam. Jangan langsung meluapkan emosi melalui pesan singkat atau keluhan di grup. Beri ruang bagi diri sendiri untuk berpikir jernih.

Tanyakan pada diri sendiri:

  • Apakah ada bagian dari kritik ini yang benar?

  • Apa yang bisa saya pelajari?

  • Apa langkah konkret yang bisa saya perbaiki?

Mengolah emosi bukan berarti menekan perasaan, tetapi mengelolanya agar tidak merugikan diri sendiri.

Mengubah Kritik Menjadi Aksi

Kritik yang tidak ditindaklanjuti hanya akan menjadi beban pikiran. Namun kritik yang diterjemahkan menjadi langkah perbaikan akan berubah menjadi kekuatan.

Misalnya:

  • Jika dinilai kurang teliti, mulai buat daftar pengecekan sebelum menyerahkan pekerjaan.

  • Jika komunikasi dianggap kurang jelas, latih penyampaian ide secara lebih terstruktur.

  • Jika manajemen waktu dipertanyakan, atur ulang prioritas harian.

Perubahan kecil yang konsisten sering kali memberi dampak besar.

Belajar dari Kritik: Cara Dewasa Menghadapi Teguran di Tempat Kerja

Bersikap dewasa bukan berarti menerima semua kritik tanpa berpikir. Ada kalanya teguran disampaikan dengan emosi, asumsi, atau informasi yang belum lengkap.

Dalam situasi seperti itu, kita tetap bisa merespons dengan tenang dan profesional. Sampaikan klarifikasi dengan data dan sikap yang hormat. Diskusi yang sehat jauh lebih produktif daripada diam dalam kesalahpahaman.

Kedewasaan terlihat bukan dari seberapa sering kita ditegur, tetapi dari bagaimana kita menyikapinya.

Di dunia kerja, tidak ada yang langsung sempurna. Bahkan mereka yang kini terlihat sangat kompeten pun pernah berada di posisi belajar dan menerima banyak koreksi.

Teguran bukan tanda kegagalan. Ia adalah bagian dari proses menjadi lebih baik.

Semakin cepat kita berdamai dengan fakta bahwa kritik adalah bagian alami dari pertumbuhan, semakin ringan langkah kita dalam berkarier.

Menghadapi teguran dengan dewasa membutuhkan kerendahan hati. Mengakui kekurangan tanpa merendahkan diri sendiri. Menerima masukan tanpa kehilangan kepercayaan diri.

Setiap kritik menyimpan dua pilihan: terluka atau bertumbuh. Kita mungkin tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menyampaikan teguran, tetapi kita selalu bisa mengontrol bagaimana kita meresponsnya.

Dan sering kali, di situlah kualitas profesionalisme kita benar-benar terlihat.