Diam Bukan Profesional: Pentingnya Berani Bicara di Dunia Kerja

0
9
Diam Bukan Profesional: Pentingnya Berani Bicara di Dunia Kerja

Diam Bukan Profesional: Pentingnya Berani Bicara di Dunia Kerja – Di banyak lingkungan kerja, diam sering disamakan dengan profesional. Tidak banyak bertanya. Tidak membantah atasan. Tidak mengomentari keputusan tim. Pokoknya ikut saja. Aman. Tidak menimbulkan konflik.

Sekilas terlihat dewasa. Tapi benarkah diam selalu berarti profesional?

Tidak jarang, justru dari kebiasaan diam itulah banyak masalah tumbuh—miskomunikasi, beban kerja tidak adil, ide bagus yang tak pernah muncul ke permukaan, hingga keputusan keliru yang sebenarnya bisa dicegah.

Alasan paling umum sederhana: takut.

Takut dianggap tidak kompeten karena terlalu banyak bertanya.
Takut dinilai menentang atasan.
Takut dicap “terlalu vokal”.
Takut suasana jadi canggung.

Bagi karyawan baru, rasa sungkan terasa wajar. Bagi karyawan lama, ada kekhawatiran reputasi. Kita ingin terlihat mudah diajak kerja sama. Kita ingin aman.

Akhirnya, kita memilih menahan pendapat, bahkan ketika hati kecil berkata ada yang perlu disampaikan.

Banyak orang berpikir bahwa diam adalah posisi netral. Padahal dalam banyak situasi, diam adalah keputusan.

Ketika ada pembagian kerja yang tidak adil dan kita tidak bersuara, pola itu akan terus berulang.
Ketika ada strategi yang berisiko tapi tidak ada yang berani mengkritisi, dampaknya bisa lebih besar.
Ketika ada perilaku yang melampaui batas namun semua memilih menunduk, budaya kerja menjadi tidak sehat.

Profesionalisme bukan hanya tentang menyelesaikan tugas. Ia juga tentang tanggung jawab terhadap kualitas kerja dan lingkungan di dalamnya.

Sering kali, keberanian berbicara disalahartikan sebagai sikap konfrontatif. Padahal ada perbedaan besar antara berbicara dengan emosi dan berbicara dengan tanggung jawab.

Berani bicara secara profesional berarti:

  • Menggunakan data, bukan asumsi.

  • Fokus pada solusi, bukan menyalahkan.

  • Menyampaikan keberatan dengan tenang dan jelas.

  • Memilih waktu dan cara yang tepat.

Kita tidak harus mengangkat suara untuk didengar. Kadang yang dibutuhkan hanyalah kalimat sederhana seperti, “Boleh saya memberikan sudut pandang lain?” atau “Menurut saya ada risiko yang perlu kita pertimbangkan.”

Diam Bukan Profesional: Pentingnya Berani Bicara di Dunia Kerja

Kontribusi di tempat kerja bukan hanya tenaga dan waktu. Ide, pertanyaan kritis, dan masukan jujur juga bentuk kontribusi.

Tim yang sehat bukan tim yang selalu sepakat, tetapi tim yang cukup aman untuk berbeda pendapat. Ketika satu orang berani memulai, sering kali yang lain akan merasa lebih nyaman untuk ikut berbicara.

Berani bicara juga melindungi diri sendiri. Misalnya saat beban kerja sudah tidak realistis, atau ketika ekspektasi tidak jelas. Mengklarifikasi bukan tanda kelemahan. Justru itu menunjukkan kepedulian terhadap hasil.

Tentu saja, tidak semua lingkungan kerja ideal. Ada tempat yang memang tidak memberi ruang aman untuk bersuara. Di situ, kebijaksanaan tetap diperlukan.

Namun sebelum menyimpulkan bahwa situasi tidak memungkinkan, ada baiknya kita jujur: apakah benar tidak aman, atau kita hanya belum terbiasa menyampaikan pendapat?

Keberanian berbicara adalah keterampilan. Ia bisa dilatih. Dimulai dari hal kecil—bertanya saat tidak paham, memberi saran sederhana, atau menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan.

Semakin sering dilakukan, semakin natural rasanya.

Profesionalisme bukan tentang menjadi orang paling diam di ruangan. Bukan juga tentang selalu menyenangkan semua orang. Profesionalisme adalah tentang tanggung jawab, integritas, dan keberanian untuk menjaga kualitas—termasuk kualitas komunikasi.

Jika kita terus memilih diam demi terlihat aman, kita mungkin memang terhindar dari konflik. Tapi kita juga kehilangan kesempatan untuk berkembang, berkontribusi lebih besar, dan membentuk lingkungan kerja yang lebih sehat.

Karena pada akhirnya, dunia kerja tidak hanya membutuhkan pekerja yang patuh. Ia membutuhkan individu yang berpikir, peduli, dan cukup berani untuk bersuara.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/terlalu-loyal-pada-perusahaan-kurang-loyal-pada-diri-sendiri/