Gen Z di Dunia Kerja: Idealisme vs Realita Kantor

0
12
Gen Z di Dunia Kerja: Idealisme vs Realita Kantor

Gen Z di Dunia Kerja: Idealisme vs Realita Kantor – Generasi Z tumbuh di era internet cepat, media sosial, dan akses informasi tanpa batas. Mereka terbiasa dengan perubahan yang dinamis, ruang berekspresi yang luas, dan kebebasan menyuarakan pendapat. Ketika akhirnya memasuki dunia kerja, banyak dari mereka datang dengan idealisme yang kuat: ingin pekerjaan yang bermakna, lingkungan yang suportif, serta keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi.

Namun, realita kantor tidak selalu sejalan dengan ekspektasi

Bagi banyak Gen Z, bekerja bukan sekadar soal gaji. Mereka ingin tahu dampak dari apa yang mereka kerjakan. “Apakah pekerjaan ini berguna?” “Apakah perusahaan ini punya nilai yang sejalan dengan saya?” Pertanyaan-pertanyaan ini sering menjadi pertimbangan utama.

Sayangnya, tidak semua tempat kerja siap menjawab kebutuhan tersebut. Beberapa kantor masih memegang budaya lama: komunikasi satu arah, hierarki yang kaku, serta jam kerja panjang yang dianggap sebagai bukti loyalitas. Di sinilah benturan sering terjadi. Gen Z yang terbiasa menyampaikan opini bisa dianggap terlalu vokal. Sementara sistem yang sudah lama berjalan merasa tidak perlu diubah.

Padahal, perbedaan ini bukan tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang sudut pandang yang berbeda.

Gen Z kerap dicap “kurang tahan banting” karena menolak lembur berlebihan atau menuntut fleksibilitas kerja. Namun, bagi mereka, menjaga kesehatan mental dan waktu pribadi bukan tanda kemalasan, melainkan bentuk kesadaran diri.

Mereka tumbuh di masa ketika isu burnout, kesehatan mental, dan toxic workplace semakin terbuka dibahas. Mereka belajar bahwa bekerja keras itu penting, tetapi tidak seharusnya mengorbankan diri sepenuhnya.

Di sisi lain, dunia kerja tetap menuntut tanggung jawab dan komitmen. Target harus tercapai, klien harus dilayani, dan tim harus solid. Tantangannya adalah menemukan titik tengah antara menjaga diri sendiri dan memenuhi ekspektasi profesional.

Gen Z dikenal cepat beradaptasi dengan teknologi. Mereka tidak canggung dengan aplikasi baru, sistem digital, atau pola kerja berbasis daring. Dalam banyak kasus, mereka justru membawa ide segar dan pendekatan yang lebih efisien.

Namun, bukan berarti mereka tidak membutuhkan bimbingan. Di balik kepercayaan diri yang terlihat di media sosial, banyak dari mereka yang masih mencari arah. Mereka ingin didengar, tetapi juga ingin dibimbing. Mereka ingin dipercaya, tetapi tetap membutuhkan umpan balik yang jelas.

Sayangnya, komunikasi lintas generasi sering kali menjadi tantangan. Cara berbicara, gaya kerja, hingga cara menerima kritik bisa berbeda. Tanpa empati dari kedua belah pihak, kesalahpahaman mudah terjadi.

Gen Z di Dunia Kerja: Idealisme vs Realita Kantor

Seiring waktu, Gen Z mulai memahami bahwa tidak semua hal bisa berubah secepat update aplikasi. Ada proses, ada kompromi, dan ada realita yang harus diterima. Idealisme yang dulu terasa mutlak perlahan ditempa oleh pengalaman.

Namun ini bukan berarti mereka harus kehilangan jati diri. Justru di sinilah proses pendewasaan terjadi. Mereka belajar kapan harus bersuara dan kapan harus mendengar. Kapan harus bertahan dan kapan harus mencari peluang lain.

Realita kantor mungkin tidak selalu ideal, tetapi bukan berarti idealisme harus mati. Ia bisa berubah bentuk—menjadi semangat untuk memperbaiki sistem dari dalam, atau menjadi kompas pribadi dalam mengambil keputusan karier.

Dunia kerja sedang berada di masa transisi. Generasi lama membawa pengalaman dan ketahanan. Gen Z membawa perspektif baru dan keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap “sudah biasa”.

Alih-alih saling menyalahkan, keduanya sebenarnya bisa saling melengkapi. Kantor yang mampu membuka ruang dialog akan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Dan Gen Z yang mau belajar memahami struktur akan lebih mudah berkembang.

Pada akhirnya, perjalanan Gen Z di dunia kerja adalah tentang menemukan keseimbangan—antara idealisme dan realita, antara mimpi dan tanggung jawab. Karena bekerja bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga tentang tumbuh, belajar, dan perlahan memahami bahwa dunia nyata memang tidak selalu sempurna, tetapi tetap bisa diperjuangkan agar menjadi lebih baik.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/drama-kantor-sehari-hari-politik-gosip-dan-profesionalisme/