Gen Z Dianggap Manja di Kantor, Tapi Data Ini Membuktikan Sebaliknya –
“Gen Z terlalu sensitif.”
“Dikit-dikit burnout.”
“Baru ditegur sedikit langsung resign.”
Label seperti ini makin sering terdengar di dunia kerja. Generasi Z kerap dianggap manja, tidak tahan tekanan, dan kurang loyal dibanding generasi sebelumnya. Namun, jika ditarik lebih dalam, narasi itu tidak sepenuhnya adil. Bahkan, banyak data dan realita lapangan justru menunjukkan gambaran yang berbeda.
Masalahnya bukan pada generasinya, melainkan pada cara dunia kerja belum sepenuhnya memahami perubahan zaman.
Sebagian besar Gen Z masuk dunia kerja di masa yang tidak ideal: pandemi, ketidakpastian ekonomi, maraknya PHK, dan perubahan teknologi yang sangat cepat. Mereka langsung dihadapkan pada tuntutan tinggi, tetapi dengan rasa aman yang jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.
Ketika mereka bertanya, memberi masukan, atau mempertanyakan sistem kerja, sikap ini sering disalahartikan sebagai manja. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: mereka lebih sadar akan batas diri dan kualitas hidup.
Data Menunjukkan Gen Z Bukan Generasi Malas
Berbagai survei ketenagakerjaan global menunjukkan bahwa Gen Z:
-
Lebih cepat belajar teknologi baru
-
Lebih terbuka pada multi-skill dan lintas peran
-
Lebih berani mengambil pekerjaan di luar zona nyaman
-
Lebih aktif mencari feedback dan evaluasi diri
Gen Z tumbuh di era informasi tanpa batas. Mereka terbiasa belajar mandiri, mengakses sumber global, dan mengembangkan skill di luar pendidikan formal. Ini bukan ciri generasi manja, tapi generasi yang adaptif dan sadar nilai.
Perbedaan paling mencolok antara Gen Z dan generasi sebelumnya bukan soal etos kerja, melainkan cara memaknai kerja. Jika dulu lembur dianggap bukti loyalitas, Gen Z melihatnya sebagai tanda sistem yang tidak efisien.
Mereka tidak anti-kerja keras. Mereka anti kerja yang:
-
Tidak jelas tujuannya
-
Tidak memberi ruang tumbuh
-
Mengorbankan kesehatan mental tanpa alasan logis
Dan di sinilah konflik generasi sering muncul.
Gen Z Lebih Vokal, Bukan Lebih Lemah
Gen Z tumbuh di lingkungan yang mendorong keterbukaan. Mereka terbiasa menyuarakan pendapat, mengungkap ketidaknyamanan, dan meminta kejelasan. Di kantor yang belum siap, sikap ini dianggap “banyak maunya”.
Padahal, budaya kerja modern justru membutuhkan komunikasi dua arah. Banyak perusahaan yang berhasil beradaptasi dengan Gen Z justru mengalami peningkatan inovasi dan retensi karyawan.
Gen Z Dianggap Manja di Kantor, Tapi Data Ini Membuktikan Sebaliknya
Salah satu tudingan terbesar pada Gen Z adalah “gampang resign”. Namun, data menunjukkan bahwa alasan utama mereka keluar bukan karena malas, melainkan:
-
Tidak ada kejelasan karier
-
Beban kerja tidak seimbang
-
Lingkungan kerja toksik
-
Janji perusahaan tidak sesuai realita
Gen Z tidak takut memulai ulang. Mereka lebih memilih kehilangan pekerjaan daripada kehilangan kesehatan mental dan arah hidup.
Setiap generasi membawa nilai yang lahir dari zamannya. Gen Z lahir di era transparansi, kecepatan, dan ketidakpastian. Wajar jika mereka menuntut kejelasan, fleksibilitas, dan makna dalam bekerja.
Alih-alih melabeli Gen Z sebagai manja, dunia kerja justru perlu bertanya: apakah sistem lama masih relevan untuk realita baru?
Gen Z bukan generasi lemah. Mereka hanya tidak mau hidup dalam sistem yang tidak manusiawi. Mereka bekerja keras, belajar cepat, dan berani mengambil keputusan sulit—termasuk pergi, jika itu berarti menyelamatkan diri.
Dan mungkin, bukan Gen Z yang perlu berubah. Tapi cara kita memandang dunia kerja itu sendiri.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/banyak-fresh-graduate-gagal-di-3-bulan-pertama-kerja-ini-kesalahan-fatalnya/






