Imposter Syndrome di Kantor: Merasa Tidak Pantas di Posisi Sendiri

0
5
Imposter Syndrome di Kantor: Merasa Tidak Pantas di Posisi Sendiri

Imposter Syndrome di Kantor: Merasa Tidak Pantas di Posisi Sendiri – Pernah duduk di meja kerja, melihat jabatan di kartu nama atau tanda tangan email, lalu diam-diam berpikir, “Aku sebenarnya pantas nggak sih ada di sini?”

Padahal kamu lolos seleksi. Kamu melewati proses interview. Kamu mengerjakan tugas dengan baik. Bahkan mungkin baru saja mendapat promosi. Tapi tetap saja ada suara kecil di kepala yang berbisik, “Ini cuma keberuntungan. Suatu hari nanti mereka akan sadar kalau aku sebenarnya tidak sehebat itu.”

Perasaan itulah yang sering disebut sebagai imposter syndrome — kondisi ketika seseorang merasa tidak layak atas pencapaiannya sendiri dan takut “terbongkar” sebagai penipu, meski tidak ada bukti nyata yang mendukung pikiran tersebut.

Yang menarik, imposter syndrome justru sering dialami oleh orang-orang yang kompeten. Mereka terbiasa menetapkan standar tinggi untuk diri sendiri. Ketika berhasil, mereka menganggap itu karena faktor eksternal: keberuntungan, bantuan tim, atau kebetulan situasi mendukung.

Namun ketika melakukan kesalahan kecil, mereka menganggapnya sebagai bukti bahwa diri mereka memang tidak cukup baik.

Akhirnya, keberhasilan terasa sementara, sedangkan kegagalan terasa permanen.

Lingkungan kerja adalah tempat yang penuh evaluasi. Ada target, penilaian kinerja, perbandingan antar rekan, hingga ekspektasi atasan. Semua itu bisa menjadi “bahan bakar” bagi keraguan diri.

Beberapa pemicu yang umum terjadi:

1. Lingkungan baru atau promosi jabatan
Saat naik posisi atau pindah ke perusahaan baru, standar terasa meningkat. Kita membandingkan diri dengan rekan yang lebih senior, lebih cepat, atau lebih percaya diri. Perbandingan ini seringkali tidak adil, tapi tetap saja terasa nyata.

2. Budaya kompetitif
Di tempat kerja yang sangat kompetitif, pencapaian menjadi tolok ukur utama. Ketika orang lain tampak selalu unggul, kita mudah merasa tertinggal—meskipun sebenarnya tidak.

3. Perfeksionisme
Keinginan untuk selalu sempurna membuat kita sulit mengakui pencapaian. Jika hasilnya tidak 100% sesuai ekspektasi pribadi, maka dianggap belum cukup baik.

4. Kurangnya apresiasi internal
Ada orang yang sulit menerima pujian. Ketika dipuji, respons dalam hati justru, “Ah, itu kan memang sudah tugasku.” Lama-lama, semua pencapaian terasa biasa saja.

Imposter Syndrome di Kantor: Merasa Tidak Pantas di Posisi Sendiri

Tanda-Tanda yang Sering Tidak Disadari

Imposter syndrome tidak selalu terlihat jelas. Kadang ia muncul dalam bentuk:

  • Takut mengambil tanggung jawab baru karena merasa belum siap.

  • Terlalu lama mempersiapkan sesuatu karena takut hasilnya kurang sempurna.

  • Sulit menikmati keberhasilan.

  • Merasa cemas berlebihan saat menerima evaluasi, bahkan sebelum tahu isinya.

Yang melelahkan bukan pekerjaannya, tetapi dialog internal yang tidak pernah berhenti.

Jika terus dipelihara, imposter syndrome bisa menghambat perkembangan karier. Kita mungkin menolak kesempatan bagus karena merasa belum layak. Kita bisa bekerja terlalu keras untuk “menutupi kekurangan” yang sebenarnya tidak ada.

Ironisnya, semakin kita berprestasi, semakin tinggi pula standar yang kita pasang untuk diri sendiri. Lingkaran ini bisa membuat seseorang terus merasa kurang, meski secara objektif sudah berkembang jauh.

Menghilangkan imposter syndrome sepenuhnya mungkin sulit. Namun kita bisa belajar berdamai dengannya.

1. Pisahkan fakta dan asumsi
Ketika muncul pikiran, “Aku tidak cukup pintar untuk posisi ini,” coba tanyakan: apa buktinya? Lihat kembali pencapaian yang sudah diraih. Fakta sering kali jauh lebih ramah daripada asumsi kita sendiri.

2. Catat keberhasilan, sekecil apa pun
Menyimpan daftar pencapaian membantu kita melihat progres secara nyata. Ini bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk mengingatkan bahwa perjalanan kita bukan kebetulan.

3. Berani berbagi cerita
Mengejutkannya, banyak profesional hebat juga pernah—atau sedang—mengalami hal serupa. Saat kita membuka diri, kita sering menyadari bahwa perasaan ini lebih umum daripada yang kita kira.

4. Izinkan diri untuk belajar
Tidak ada orang yang langsung ahli di hari pertama. Tumbuh adalah proses. Ketidaktahuan bukan bukti ketidaklayakan, melainkan bagian dari perkembangan.

Imposter Syndrome di Kantor: Merasa Tidak Pantas di Posisi Sendiri

Dunia kerja memang penuh tantangan. Akan selalu ada orang yang terlihat lebih percaya diri atau lebih berpengalaman. Namun keberadaan orang lain tidak otomatis mengurangi nilai diri kita.

Jika hari ini kamu berada di posisi tertentu, itu bukan semata-mata keberuntungan. Ada usaha, kemampuan, dan proses panjang di baliknya.

Merasa ragu sesekali adalah hal yang manusiawi. Tapi jangan biarkan keraguan itu mendefinisikan siapa dirimu.

Kamu bukan penipu di cerita ini. Kamu adalah seseorang yang sedang bertumbuh—dan itu sudah lebih dari cukup.