Kenapa Karyawan Rajin Justru Lebih Cepat Burnout? – Di banyak tempat kerja, karyawan rajin sering dipuji sebagai teladan. Mereka datang lebih awal, pulang paling akhir, jarang menolak tugas, dan selalu bisa diandalkan. Namun ada ironi yang kerap terjadi: justru kelompok inilah yang paling cepat mengalami burnout.
Burnout tidak selalu datang karena seseorang tidak mampu bekerja. Sering kali, ia muncul karena seseorang terlalu mampu, terlalu peduli, dan terlalu lama mengabaikan batas dirinya sendiri.
Karyawan rajin biasanya memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Mereka ingin memastikan pekerjaan selesai dengan baik, tidak mengecewakan tim, dan tidak merepotkan atasan. Sayangnya, rasa tanggung jawab ini sering berubah menjadi beban yang dipikul sendirian.
Ketika pekerjaan menumpuk, karyawan rajin cenderung berpikir, “Nanti saya kerjakan saja,” atau “Kalau saya tidak ambil, siapa lagi?” Tanpa disadari, mereka terus menambah beban tanpa pernah menguranginya.
Salah satu ciri karyawan rajin adalah keengganan untuk menolak. Menolak tugas sering dianggap sebagai tanda tidak komitmen atau tidak profesional. Akibatnya, banyak karyawan rajin memilih diam dan menerima semuanya, meski kapasitasnya sudah penuh.
Ketidakmampuan berkata “tidak” ini perlahan mengikis energi. Bukan karena tugasnya terlalu berat, tetapi karena tidak ada ruang untuk bernapas.
Ironisnya, karyawan rajin tidak selalu mendapatkan apresiasi yang sepadan. Karena dianggap “sudah biasa bisa”, usaha mereka kerap dipandang sebagai standar, bukan kelebihan. Ketika hasilnya baik, itu dianggap wajar. Ketika ada kesalahan kecil, justru menjadi sorotan.
Kondisi ini menciptakan tekanan emosional: bekerja keras tanpa rasa cukup, tanpa pengakuan yang jelas, dan tanpa kepastian bahwa usaha tersebut benar-benar dihargai.
Kenapa Karyawan Rajin Justru Lebih Cepat Burnout?
Di era komunikasi instan, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin tipis. Karyawan rajin sering menjadi yang paling cepat merespons pesan, bahkan di luar jam kerja. Awalnya terlihat sebagai dedikasi, tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang menguras energi.
Tanpa disadari, otak tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Tubuh mungkin beristirahat, tetapi pikiran tetap berada di kantor.
Banyak karyawan rajin memiliki standar tinggi terhadap diri sendiri. Mereka ingin hasil yang rapi, tepat, dan minim kesalahan. Perfeksionisme ini memang menghasilkan kualitas kerja yang baik, tetapi juga membuat proses kerja menjadi jauh lebih melelahkan.
Ketika kesalahan kecil terasa seperti kegagalan besar, tekanan mental pun semakin berat.
Burnout sering disalahartikan sebagai tanda kurang kuat atau kurang tahan banting. Padahal, burnout justru sering menimpa orang-orang yang terlalu lama memaksakan diri tanpa jeda.
Karyawan rajin jarang berhenti karena merasa lelah. Mereka berhenti karena sudah tidak sanggup lagi.
Karyawan rajin bukan masalah. Dunia kerja tetap membutuhkan orang-orang yang bertanggung jawab dan berdedikasi. Namun, kerajinan tanpa batas, tanpa komunikasi, dan tanpa perlindungan diri justru berbahaya.
Karier yang sehat bukan tentang siapa yang paling lama bertahan di kantor, tetapi siapa yang mampu bekerja dengan baik tanpa kehilangan kesehatan mental dan rasa kemanusiaannya. Belajar menetapkan batas, meminta bantuan, dan menghargai diri sendiri bukan tanda kemalasan, melainkan bentuk keberlanjutan.
Karena pada akhirnya, bekerja dengan baik tidak seharusnya berarti mengorbankan diri sendiri.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/dunia-kerja-sekarang-menghargai-orang-yang-bisa-belajar-ulang/






