Meeting Sepanjang Hari, Kerja Kapan?

0
9
Meeting Sepanjang Hari, Kerja Kapan?

Meeting Sepanjang Hari, Kerja Kapan?  Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Rapat pertama dimulai. Pukul 10.30 lanjut ke meeting berikutnya. Selesai makan siang, sudah ada undangan diskusi lagi.
Sore hari ditutup dengan “quick sync” yang entah kenapa berlangsung hampir satu jam.

Tiba-tiba hari sudah hampir selesai. Banyak yang dibahas, banyak yang disepakati, tapi satu pertanyaan menggantung di kepala: kerja sebenarnya kapan?

Fenomena ini terasa semakin umum. Kalender penuh warna, notifikasi undangan berdatangan, dan waktu untuk benar-benar fokus mengerjakan tugas justru tersisa di sela-sela—atau lebih sering, setelah jam kerja berakhir.

Tidak bisa dipungkiri, meeting punya fungsi penting. Rapat menyatukan persepsi, memperjelas arah, dan mencegah miskomunikasi. Dalam tim yang kompleks, diskusi adalah jembatan yang menjaga semuanya tetap selaras.

Masalahnya bukan pada keberadaan meeting, melainkan pada jumlah dan kualitasnya.

Sering kali rapat diadakan hanya karena merasa “perlu bertemu”, bukan karena benar-benar membutuhkan diskusi mendalam. Topik yang seharusnya bisa diringkas lewat pesan singkat atau email berubah menjadi pertemuan satu jam. Peserta yang sebenarnya tidak terlibat langsung tetap diundang “untuk jaga-jaga”. Akhirnya, waktu kolektif terpakai tanpa hasil yang sebanding.

Ada perasaan tertentu ketika menghadiri banyak meeting: terasa sibuk, terasa penting, terasa terlibat. Kalender yang padat memberi kesan bahwa kita produktif.

Padahal, produktivitas sejati bukan diukur dari seberapa penuh jadwal kita, melainkan dari seberapa banyak pekerjaan yang benar-benar selesai.

Meeting yang berlebihan menciptakan ilusi kontribusi. Kita banyak berbicara tentang rencana, strategi, dan target—namun sedikit waktu tersisa untuk mengeksekusi semuanya. Akhirnya, pekerjaan inti dikerjakan terburu-buru di penghujung hari atau bahkan dibawa pulang.

Meeting Sepanjang Hari, Kerja Kapan?

Meeting sepanjang hari tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga mental.

  • Fokus terpecah-pecah. Setiap rapat membahas topik berbeda. Otak harus terus beradaptasi, sehingga sulit masuk ke mode kerja mendalam.

  • Energi terkuras. Mendengarkan, berbicara, dan berpikir cepat dalam diskusi menghabiskan banyak energi, terutama bagi mereka yang butuh ruang tenang untuk bekerja optimal.

  • Jam kerja melebar. Karena waktu eksekusi berkurang, pekerjaan akhirnya diselesaikan di luar jam kantor.

Dalam jangka panjang, pola ini bisa memicu kelelahan dan frustrasi. Bukan karena pekerjaannya terlalu sulit, tetapi karena waktu untuk mengerjakannya terasa tidak pernah cukup.

Ada beberapa alasan mengapa budaya meeting sulit dikendalikan.

Pertama, koordinasi lintas tim semakin kompleks. Semakin banyak pihak terlibat, semakin besar kebutuhan untuk menyamakan persepsi.

Kedua, ada rasa aman dalam berdiskusi bersama. Keputusan terasa lebih kuat jika diambil kolektif, meski prosesnya memakan waktu.

Ketiga, teknologi mempermudah semuanya. Dengan satu klik, undangan terkirim ke belasan orang. Kemudahan ini sering membuat kita lupa bahwa setiap undangan berarti potongan waktu orang lain.

Lalu, Apa Solusinya?

Tidak realistis menghapus meeting sepenuhnya. Namun, kita bisa membuatnya lebih sehat dan efektif.

1. Tanyakan: apakah ini benar-benar perlu meeting?
Jika tujuan hanya menyampaikan informasi satu arah, mungkin cukup lewat pesan tertulis. Meeting sebaiknya digunakan untuk diskusi, pengambilan keputusan, atau pemecahan masalah yang membutuhkan interaksi langsung.

2. Tetapkan agenda yang jelas.
Rapat tanpa agenda ibarat perjalanan tanpa tujuan. Dengan daftar poin yang spesifik, diskusi lebih terarah dan tidak melebar ke mana-mana.

3. Batasi durasi dan peserta.
Tidak semua orang harus hadir di setiap pembahasan. Mengundang hanya pihak yang relevan membantu diskusi lebih fokus dan efisien.

4. Sisakan waktu untuk deep work.
Idealnya, ada blok waktu tanpa meeting dalam sehari atau seminggu. Waktu ini menjadi ruang aman untuk benar-benar mengerjakan tugas inti tanpa gangguan.

Meeting Sepanjang Hari, Kerja Kapan?

Waktu adalah sumber daya yang tidak bisa dikembalikan. Ketika satu jam dihabiskan untuk rapat yang kurang efektif, itu bukan hanya satu jam hilang bagi satu orang, tetapi bagi seluruh peserta.

Budaya kerja yang sehat bukan tentang siapa yang paling sering muncul di ruang meeting, melainkan siapa yang mampu menghasilkan dampak nyata. Kadang, kontribusi terbaik justru lahir dari waktu tenang—saat seseorang bisa berpikir mendalam tanpa interupsi.

Meeting seharusnya menjadi alat bantu, bukan pusat dari seluruh aktivitas kerja. Ia mendukung pekerjaan, bukan menggantikannya.

Jika hari terasa habis hanya untuk duduk dan berdiskusi, mungkin sudah waktunya mengevaluasi ulang cara kita mengatur waktu dan berkoordinasi. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengembalikan esensi bekerja itu sendiri.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita berkembang bukanlah seberapa sering kita hadir di rapat, melainkan seberapa banyak hal yang benar-benar kita wujudkan.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/overthinking-setelah-jam-kerja-kenapa-pikiran-masih-di-kantor/