Overthinking Setelah Jam Kerja: Kenapa Pikiran Masih di Kantor? – Jam kerja sudah selesai. Laptop sudah ditutup. Notifikasi email sudah dimatikan. Secara fisik, kita sudah berada di rumah. Namun anehnya, pikiran masih tertinggal di meja kantor.
Tiba-tiba kita teringat presentasi tadi siang. “Tadi jawabanku kurang tepat nggak ya?”
Lalu muncul lagi bayangan wajah atasan saat rapat. “Dia kelihatan kurang puas. Jangan-jangan aku salah.”
Belum lagi daftar pekerjaan besok yang terasa seperti bayangan panjang yang mengikuti sampai ke tempat tidur.
Fenomena ini semakin sering terjadi di era kerja modern. Batas antara jam kerja dan waktu pribadi semakin tipis. Bahkan ketika tubuh beristirahat, pikiran tetap bekerja lembur.
Ada beberapa alasan mengapa overthinking setelah jam kerja begitu umum terjadi.
1. Tanggung jawab yang tidak benar-benar selesai
Banyak pekerjaan hari ini tidak punya “titik akhir” yang jelas. Email bisa datang kapan saja. Target selalu berkembang. Proyek jarang benar-benar tuntas; biasanya hanya berpindah fase. Akibatnya, otak kita tidak mendapat sinyal bahwa pekerjaan sudah selesai. Tanpa penutup yang jelas, pikiran terus memutar ulang skenario.
2. Budaya produktivitas yang berlebihan
Kita hidup di masa ketika sibuk sering dianggap sebagai prestasi. Istirahat terasa seperti kemunduran. Tanpa sadar, kita membawa standar itu sampai ke rumah. Saat sedang santai, muncul rasa bersalah karena merasa belum cukup produktif.
Padahal, manusia bukan mesin yang bisa menyala terus tanpa jeda.
3. Rasa takut melakukan kesalahan
Banyak dari kita dibesarkan dengan keyakinan bahwa kesalahan adalah sesuatu yang memalukan. Di dunia kerja, kesalahan bisa berdampak pada reputasi, karier, bahkan penghasilan. Wajar jika otak mencoba “mengulang” kejadian hari itu untuk memastikan semuanya aman. Sayangnya, proses ini sering berubah menjadi overthinking yang tidak produktif.
4. Kurangnya batasan yang tegas
Teknologi membuat kita selalu terhubung. Grup kerja, email, pesan instan—semuanya ada di genggaman. Tanpa batas yang jelas, otak sulit membedakan mana waktu kerja dan mana waktu pribadi. Akhirnya, kantor seperti ikut pindah ke ruang tamu.
Sekilas, overthinking terlihat sepele. Hanya berpikir, bukan? Namun jika berlangsung terus-menerus, dampaknya bisa cukup besar.
-
Kualitas tidur menurun karena pikiran sulit tenang.
-
Waktu bersama keluarga atau pasangan terasa tidak utuh.
-
Tubuh lelah meski secara teknis sudah “istirahat”.
-
Perasaan cemas meningkat tanpa alasan yang jelas.
Ironisnya, semakin sering kita memikirkan pekerjaan di luar jam kerja, semakin besar kemungkinan kita mengalami kelelahan mental. Dan ketika benar-benar kembali bekerja, energi kita sudah terkuras lebih dulu.
Banyak orang merasa bersalah karena tidak bisa “move on” dari pekerjaan setelah jam kantor. Mereka menganggap ini sebagai kelemahan. Padahal, justru sebaliknya: ini tanda bahwa kita peduli.
Kita memikirkan pekerjaan karena ingin melakukan yang terbaik. Kita khawatir karena ingin bertanggung jawab. Masalahnya bukan pada kepedulian itu, melainkan pada bagaimana kita mengelolanya.
Profesionalisme bukan berarti memikirkan pekerjaan 24 jam sehari. Profesionalisme juga mencakup kemampuan menjaga kesehatan mental agar tetap bisa bekerja dengan baik dalam jangka panjang.
Overthinking Setelah Jam Kerja: Kenapa Pikiran Masih di Kantor?
Cara Membantu Pikiran Benar-Benar Istirahat
Menghentikan overthinking sepenuhnya mungkin tidak realistis. Namun kita bisa menguranginya.
1. Buat “ritual penutup” sebelum pulang
Sebelum mengakhiri hari kerja, luangkan 10–15 menit untuk menuliskan:
-
Apa saja yang sudah selesai hari ini
-
Apa yang harus dilakukan besok
-
Hal penting yang perlu diingat
Dengan begitu, otak mendapat sinyal bahwa semuanya sudah tercatat dan aman. Kita tidak perlu terus mengingatnya di kepala.
2. Tetapkan batasan digital
Jika memungkinkan, hindari membuka email kerja setelah jam tertentu. Matikan notifikasi yang tidak mendesak. Batas kecil seperti ini membantu otak membedakan waktu kerja dan waktu pribadi.
3. Sadari kapan pikiran mulai berputar
Saat mulai memikirkan rapat tadi siang berulang-ulang, coba tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah memikirkan ini sekarang akan mengubah hasilnya?”
Jika jawabannya tidak, latih diri untuk mengalihkan perhatian ke aktivitas yang lebih nyata—membaca, berjalan santai, berbicara dengan orang rumah.
4. Latih penerimaan terhadap ketidaksempurnaan
Tidak semua hal akan berjalan sempurna. Tidak semua orang akan selalu puas. Kita berhak menjadi manusia yang sedang belajar, bukan robot tanpa cela. Menerima ini perlahan bisa mengurangi tekanan internal yang sering memicu overthinking.
Mengembalikan Arti “Pulang”
Pulang seharusnya bukan hanya perpindahan lokasi, tetapi juga perpindahan peran. Dari karyawan menjadi diri sendiri. Dari profesional menjadi pasangan, orang tua, anak, atau sekadar individu yang butuh istirahat.
Jika pikiran terus tertinggal di kantor, mungkin itu tanda bahwa kita perlu menciptakan jarak yang lebih sehat. Bukan untuk menghindari tanggung jawab, melainkan untuk menjaga diri tetap utuh.
Karena pada akhirnya, pekerjaan adalah bagian dari hidup—bukan seluruh hidup itu sendiri.
Dan kita berhak untuk benar-benar pulang.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/quarter-life-crisis-dan-tekanan-karier-di-usia-20-30-tahun/






