Quarter Life Crisis dan Tekanan Karier di Usia 20–30 Tahun

0
8
Quarter Life Crisis dan Tekanan Karier di Usia 20–30 Tahun

Quarter Life Crisis dan Tekanan Karier di Usia 20–30 Tahun – Memasuki usia 20–30 tahun sering kali terasa seperti berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kita tidak lagi dianggap “anak-anak”. Di sisi lain, rasanya belum sepenuhnya siap menjadi orang dewasa dengan segala tanggung jawabnya. Target karier, tuntutan finansial, ekspektasi keluarga, hingga perbandingan di media sosial seakan datang bersamaan. Inilah yang sering disebut sebagai quarter life crisis.

Quarter life crisis bukan sekadar istilah tren. Ia adalah fase kebingungan dan kecemasan yang nyata, terutama ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana yang dulu kita bayangkan.

Banyak dari kita tumbuh dengan gambaran bahwa setelah lulus kuliah, kita akan segera mendapatkan pekerjaan impian, gaji yang cukup, dan hidup yang stabil. Namun realitanya sering berbeda. Proses mencari kerja bisa panjang, pekerjaan pertama mungkin tidak sesuai passion, dan gaji awal sering kali belum mampu memenuhi semua kebutuhan.

Di titik ini, muncul pertanyaan-pertanyaan yang mengusik:

  • “Apakah aku salah memilih jurusan?”

  • “Kenapa teman-temanku terlihat lebih sukses?”

  • “Apakah aku tertinggal jauh?”

Perbandingan sosial menjadi salah satu pemicu terbesar tekanan di usia ini. Padahal, setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing.

Tekanan Karier yang Tidak Terlihat

Tekanan karier di usia 20–30 tahun sering kali datang dari berbagai arah:

  1. Tekanan untuk cepat sukses.
    Kita hidup di era serba cepat. Kisah sukses anak muda yang viral membuat standar keberhasilan terasa semakin tinggi.

  2. Ketidakpastian finansial.
    Gaji pertama sering kali masih pas-pasan, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Belum lagi jika harus membantu keluarga atau mulai menabung untuk masa depan.

  3. Ekspektasi keluarga dan lingkungan.
    Pertanyaan seperti “kapan naik jabatan?” atau “kapan menikah?” bisa terasa membebani, terutama ketika kita sendiri masih berjuang memahami arah hidup.

  4. Rasa takut mengambil risiko.
    Ingin pindah kerja, tetapi takut salah langkah. Ingin mencoba hal baru, tetapi khawatir dianggap tidak stabil.

Semua ini menumpuk dan kadang membuat kita merasa lelah, bahkan sebelum benar-benar mulai.

Quarter Life Crisis dan Tekanan Karier di Usia 20–30 Tahun

Quarter life crisis sebenarnya bukan tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa kita sedang bertumbuh. Ada beberapa hal yang bisa membantu menghadapi fase ini dengan lebih tenang:

1. Kurangi Membandingkan Diri

Media sosial sering menampilkan hasil akhir, bukan proses panjang di baliknya. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri bisa membantu menjaga kesehatan mental. Fokuslah pada progres pribadi, sekecil apa pun itu.

2. Kenali Ulang Tujuan Hidup

Tidak apa-apa jika tujuan berubah. Apa yang kita inginkan di usia 18 tahun belum tentu sama dengan yang kita butuhkan di usia 25 atau 28 tahun. Luangkan waktu untuk mengevaluasi ulang: apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri?

3. Bangun Keterampilan, Bukan Hanya Jabatan

Alih-alih terobsesi pada titel, lebih baik fokus mengembangkan kemampuan. Skill yang kuat akan membuka lebih banyak peluang dalam jangka panjang, bahkan jika jalurnya tidak selalu lurus.

4. Terima Bahwa Tidak Semua Hal Harus Selesai Sekarang

Usia 20–30 bukan batas akhir untuk “menjadi sukses”. Hidup bukan perlombaan yang memiliki garis finish di umur tertentu. Memberi ruang pada diri sendiri untuk belajar dan gagal adalah bagian penting dari proses pendewasaan.

5. Cari Dukungan

Berbagi cerita dengan teman, mentor, atau keluarga bisa membantu meringankan beban pikiran. Kadang kita hanya butuh didengar untuk merasa lebih kuat.

Quarter Life Crisis dan Tekanan Karier di Usia 20–30 Tahun

Quarter life crisis memang terasa membingungkan dan melelahkan. Namun di balik kegelisahan itu, ada proses pembentukan jati diri. Kita belajar memahami nilai hidup, menentukan prioritas, dan mengenali batas kemampuan diri.

Tekanan karier di usia 20–30 tahun mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya. Tetapi cara kita meresponsnya akan menentukan arah perjalanan selanjutnya. Pelan-pelan saja. Tidak harus sempurna. Tidak harus secepat orang lain.

Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk bertumbuh. Dan fase ini, seberat apa pun rasanya, adalah bagian dari perjalanan menuju versi diri yang lebih matang dan kuat.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/cara-membangun-personal-branding-di-tempat-kerja/