Side Hustle atau Fokus Karier? Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Biaya Hidup – Harga kebutuhan pokok naik perlahan tapi pasti. Tagihan bulanan terasa semakin berat. Rencana menabung atau berinvestasi sering kali harus ditunda karena ada kebutuhan mendadak. Di tengah situasi seperti ini, banyak pekerja mulai bertanya pada diri sendiri: haruskah mencari penghasilan tambahan, atau tetap fokus mengembangkan karier utama?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal uang. Ia menyentuh soal energi, waktu, ambisi, dan bahkan kesehatan mental.
Bagi sebagian orang, gaji tetap memang memberikan rasa aman. Ada kepastian pemasukan setiap bulan, ada jenjang karier yang jelas, dan ada peluang kenaikan jabatan. Namun realitas biaya hidup yang terus meningkat membuat rasa aman itu kadang terasa rapuh.
Di sinilah side hustle—pekerjaan atau usaha sampingan—menjadi pilihan menarik. Mulai dari berjualan online, menjadi freelancer, membuka jasa konsultasi, hingga membuat konten digital. Kesempatan terbuka lebar berkat teknologi.
Side hustle sering dianggap sebagai solusi cepat untuk menambah pemasukan. Tetapi apakah selalu sesederhana itu?
Memiliki penghasilan tambahan bisa memberi ruang bernapas. Ada dana darurat yang lebih kuat, ada tabungan yang mulai terisi, bahkan ada peluang untuk membangun bisnis sendiri di masa depan.
Selain itu, side hustle juga bisa menjadi wadah aktualisasi diri. Tidak semua orang merasa sepenuhnya terpenuhi oleh pekerjaan utama. Usaha sampingan kadang menjadi ruang untuk menyalurkan hobi atau passion yang tidak tersalurkan di kantor.
Namun, di balik fleksibilitasnya, side hustle menuntut disiplin ekstra. Waktu istirahat berkurang. Akhir pekan yang seharusnya untuk keluarga bisa berubah menjadi waktu mengejar deadline tambahan.
Side Hustle atau Fokus Karier? Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Biaya Hidup
Di sisi lain, memilih fokus pada karier utama juga merupakan strategi yang masuk akal. Dengan mengalokasikan energi penuh pada satu bidang, peluang untuk naik jabatan, meningkatkan skill, dan mendapatkan kenaikan gaji bisa lebih besar.
Fokus memungkinkan seseorang membangun reputasi profesional yang kuat. Dalam jangka panjang, peningkatan posisi dan jaringan bisa menghasilkan stabilitas finansial yang lebih signifikan dibanding penghasilan tambahan yang sporadis.
Namun strategi ini membutuhkan kesabaran. Hasilnya tidak selalu instan. Di tengah tekanan biaya hidup, menunggu promosi bisa terasa terlalu lama.
Baik side hustle maupun fokus karier memiliki risiko. Terlalu banyak bekerja bisa memicu kelelahan fisik dan mental. Burnout bukan hanya soal jam kerja panjang, tetapi juga tentang kurangnya waktu untuk diri sendiri.
Ada pula risiko konflik kepentingan jika pekerjaan sampingan berkaitan dengan industri yang sama dengan pekerjaan utama. Tanpa pengelolaan yang bijak, niat untuk bertahan justru bisa merugikan karier.
Yang sering terlupakan adalah kapasitas diri. Tidak semua orang memiliki energi yang sama. Membandingkan diri dengan orang lain yang tampak “produktif tanpa henti” bisa menimbulkan tekanan tambahan.
Alih-alih memilih secara ekstrem, pendekatan yang lebih fleksibel bisa menjadi solusi. Misalnya:
-
Memulai side hustle berskala kecil tanpa mengorbankan waktu istirahat.
-
Mengembangkan skill yang mendukung karier utama sekaligus berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan.
-
Menetapkan batas waktu kerja yang jelas agar tidak kehilangan keseimbangan hidup.
-
Mengevaluasi tujuan finansial secara realistis: apakah untuk dana darurat, investasi, atau kebebasan finansial jangka panjang?
Yang terpenting adalah kesadaran bahwa strategi setiap orang berbeda. Kondisi finansial, tanggungan keluarga, dan tujuan hidup tidak bisa disamaratakan.
Kenaikan biaya hidup memang nyata, dan tekanan finansial bukan hal yang bisa diabaikan. Namun dalam upaya bertahan, jangan sampai kita kehilangan kesehatan, relasi, dan makna hidup itu sendiri.
Side hustle bisa menjadi jembatan. Fokus karier bisa menjadi fondasi. Keduanya bukan tentang mana yang lebih benar, tetapi mana yang paling sesuai dengan kondisi dan kapasitas kita saat ini.
Pada akhirnya, bertahan bukan hanya soal menambah penghasilan. Ia juga tentang menjaga diri agar tetap utuh—secara finansial, mental, dan emosional—di tengah dunia yang terus bergerak cepat.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/skill-tinggi-mental-rapuh-tantangan-karyawan-muda-di-lingkungan-kompetitif/






