Skill atau Orang Dalam? Faktor yang Sebenarnya Menentukan Karier

0
8
Skill atau Orang Dalam? Faktor yang Sebenarnya Menentukan Karier

Skill atau Orang Dalam? Faktor yang Sebenarnya Menentukan Karier – Pertanyaan ini sering muncul dalam obrolan santai setelah jam kerja atau di forum pencari kerja: “Sebenarnya yang bikin orang sukses itu skill atau orang dalam?”

Sebagian orang percaya kemampuan adalah segalanya. Sebagian lagi realistis—atau mungkin skeptis—dan berkata koneksi lebih menentukan. Di tengah realita dunia kerja yang kompetitif, pertanyaan ini terasa sangat manusiawi.

Tapi apakah jawabannya sesederhana memilih salah satu?

Skill adalah dasar. Tanpa kemampuan yang relevan, sulit untuk bertahan dalam jangka panjang. Perusahaan bisa saja merekrut seseorang karena rekomendasi, tetapi performa tetap diuji setiap hari.

Dunia kerja hari ini bergerak cepat. Target berubah. Teknologi berkembang. Kompetitor bermunculan. Tanpa skill yang terus diasah, posisi sekuat apa pun bisa goyah.

Skill bukan hanya soal teknis seperti coding, desain, akuntansi, atau analisis data. Ada juga soft skill: komunikasi, manajemen emosi, kepemimpinan, kemampuan bekerja dalam tim. Sering kali, justru soft skill yang membedakan seseorang saat naik jabatan.

Jadi, jika karier diibaratkan bangunan, skill adalah pondasinya.

Istilah “orang dalam” sering kali terdengar negatif, seolah identik dengan ketidakadilan. Padahal dalam praktiknya, ini sering kali berarti networking—relasi profesional yang terbangun dari interaksi, kolaborasi, dan reputasi.

Banyak lowongan kerja tidak pernah dipublikasikan secara terbuka. Rekomendasi internal memang mempercepat proses seleksi. Perusahaan pun merasa lebih aman merekrut seseorang yang sudah direkomendasikan oleh orang yang dipercaya.

Apakah itu salah? Tidak selalu.

Masalahnya muncul ketika koneksi menggantikan kompetensi sepenuhnya. Jika seseorang naik jabatan hanya karena kedekatan, bukan kemampuan, dampaknya akan terasa pada tim dan kinerja organisasi.

Namun, dalam banyak kasus, koneksi hanya membuka pintu. Skill-lah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap berada di dalam ruangan.

Ini bagian yang sering terasa tidak adil.

Ada orang yang sangat kompeten, tapi tidak terlihat. Mereka bekerja dengan baik, tapi jarang membangun relasi, enggan tampil, atau tidak tahu cara mengkomunikasikan kontribusinya.

Sebaliknya, ada yang mungkin tidak paling hebat secara teknis, tapi pandai membangun hubungan, aktif berdiskusi, dan terlihat oleh atasan.

Dunia kerja bukan hanya soal “siapa paling pintar”, tapi juga “siapa paling terlihat dan dipercaya”.

Ini bukan berarti harus menjilat atau berpura-pura. Tapi kemampuan membangun relasi dan menunjukkan nilai diri adalah skill tersendiri.

Skill atau Orang Dalam? Faktor yang Sebenarnya Menentukan Karier

Kalau harus jujur, karier biasanya ditentukan oleh kombinasi beberapa hal:

  1. Kompetensi yang relevan dan terus berkembang
    Dunia berubah. Skill yang relevan hari ini bisa usang lima tahun lagi.

  2. Reputasi profesional
    Apakah kamu dikenal sebagai orang yang bisa diandalkan? Tepat waktu? Konsisten?

  3. Relasi yang sehat dan tulus
    Bukan sekadar mencari keuntungan, tapi membangun koneksi dua arah yang saling mendukung.

  4. Sikap dan etos kerja
    Attitude sering kali lebih sulit diajarkan daripada skill.

  5. Momentum dan kesempatan
    Kadang ada faktor keberuntungan: bertemu atasan yang tepat, berada di proyek yang strategis, atau masuk industri yang sedang berkembang.

Karier bukan garis lurus yang sepenuhnya bisa dikontrol. Tapi kita bisa meningkatkan peluang dengan memperkuat hal-hal yang berada dalam kendali kita.

Jika kamu sedang membangun karier, fokuslah pada dua hal sekaligus:

  • Tajamkan skill sampai kamu punya nilai nyata.

  • Bangun relasi tanpa kehilangan integritas.

Networking bukan berarti manipulatif. Itu bisa sesederhana menjaga komunikasi dengan rekan kerja lama, aktif berdiskusi, membantu tanpa diminta, atau menunjukkan apresiasi pada orang lain.

Skill membuatmu layak. Relasi membuatmu dikenal.

Dan dalam banyak kasus, karier berkembang ketika keduanya berjalan beriringan.

Mungkin benar, ada orang yang masuk lewat pintu khusus. Tapi bertahan di dalam tetap butuh kemampuan. Dunia kerja punya cara sendiri untuk menguji kualitas seseorang.

Daripada terjebak pada rasa iri atau sinis, lebih produktif jika kita bertanya:

“Apakah aku sudah cukup kompeten? Apakah aku sudah cukup terlihat? Apakah aku membangun hubungan yang sehat?”

Pada akhirnya, skill dan relasi bukan dua kubu yang harus dipertentangkan. Keduanya adalah alat.

Yang benar-benar menentukan adalah bagaimana kita menggunakannya untuk tumbuh—bukan hanya naik jabatan, tetapi juga berkembang sebagai pribadi yang profesional dan berintegritas.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/gaji-naik-gaya-hidup-ikut-naik-menghindari-lifestyle-inflation/