Terlalu Loyal pada Perusahaan, Kurang Loyal pada Diri Sendiri? – Di banyak budaya kerja, loyalitas sering dianggap sebagai nilai tertinggi. Datang paling pagi, pulang paling akhir. Siap dihubungi kapan saja. Mengiyakan hampir semua permintaan atasan. Tidak banyak mengeluh. Tidak mudah pindah kerja. Semua itu sering dipuji sebagai bukti dedikasi.
Namun jarang ada yang bertanya: di tengah loyalitas itu, apakah kita masih setia pada diri sendiri?
Sejak awal masuk dunia kerja, kita diajarkan untuk “berkomitmen”. Kita ingin dianggap profesional, bisa diandalkan, dan pantas dipercaya. Ada kebanggaan tersendiri ketika atasan berkata, “Saya bisa mengandalkan kamu.”
Masalahnya, keinginan untuk bisa diandalkan perlahan berubah menjadi rasa takut mengecewakan. Kita mulai sulit berkata tidak. Kita menunda cuti. Kita mengabaikan lelah. Kita memprioritaskan pekerjaan bahkan ketika tubuh dan pikiran meminta istirahat.
Di titik ini, loyalitas tidak lagi sekadar komitmen—ia berubah menjadi pengorbanan yang diam-diam menggerus diri sendiri.
Tanda bahwa kita terlalu loyal sering kali tidak dramatis. Ia hadir dalam bentuk hal-hal kecil yang berulang:
-
Tetap membalas pesan kerja di luar jam kerja, meski sebenarnya tidak mendesak.
-
Merasa bersalah saat mengambil cuti.
-
Menganggap kesehatan sebagai “urusan nanti saja”.
-
Bertahan dalam lingkungan yang tidak sehat karena merasa “sudah terlanjur lama”.
Kita meyakinkan diri bahwa ini semua bagian dari perjuangan. Bahwa suatu hari nanti semua akan terbayar. Tapi yang sering tidak kita sadari, perusahaan bisa berubah arah, berganti manajemen, atau melakukan efisiensi kapan saja. Sementara kesehatan mental dan fisik kita tidak selalu bisa dipulihkan dengan cepat.
Ada banyak alasan mengapa seseorang terlalu loyal. Bisa karena rasa terima kasih pada perusahaan pertama yang memberi kesempatan. Bisa karena takut dianggap tidak setia. Bisa juga karena identitas diri sudah terlalu melekat pada pekerjaan.
Ketika pekerjaan menjadi satu-satunya sumber validasi, kita cenderung mempertahankannya dengan segala cara. Kita lupa bahwa kita bukan hanya karyawan. Kita adalah individu dengan kebutuhan, batas, dan kehidupan di luar kantor.
Sering kali, yang kita takutkan bukan kehilangan pekerjaan, tetapi kehilangan rasa berarti.
Terlalu Loyal pada Perusahaan, Kurang Loyal pada Diri Sendiri?
Bersikap loyal pada diri sendiri bukan berarti menjadi pekerja yang tidak profesional. Justru sebaliknya. Loyal pada diri sendiri berarti:
-
Menjaga kesehatan agar tetap bisa bekerja dengan optimal.
-
Berani menetapkan batas yang sehat.
-
Mengevaluasi apakah lingkungan kerja masih mendukung pertumbuhan.
-
Mengakui ketika sudah waktunya belajar di tempat baru.
Loyalitas yang sehat seharusnya dua arah. Perusahaan menghargai kontribusi kita, dan kita menghargai diri sendiri dengan tidak membiarkan batas dilanggar terus-menerus.
Jika saat ini kamu merasa terlalu terikat, cobalah bertanya dengan jujur:
-
Apakah saya bertahan karena berkembang, atau karena takut?
-
Apakah saya masih punya ruang untuk hidup di luar pekerjaan?
-
Jika situasi ini berlangsung lima tahun lagi, apakah saya akan baik-baik saja?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk memicu keputusan impulsif, melainkan untuk mengembalikan kesadaran. Bahwa karier adalah bagian dari hidup, bukan keseluruhan hidup itu sendiri.
Bekerja dengan dedikasi adalah hal yang mulia. Namun dedikasi tidak seharusnya mengorbankan martabat, kesehatan, dan kebahagiaan pribadi. Perusahaan bisa mengganti posisi. Sistem bisa terus berjalan. Tapi diri kita—fisik, mental, dan nilai-nilai yang kita pegang—tidak bisa diganti.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya: selama ini saya setia pada siapa?
Karena pada akhirnya, karier yang sehat bukan hanya tentang seberapa lama kita bertahan, tetapi tentang apakah kita masih utuh sebagai manusia di dalamnya.






