Work from Home: Nyaman atau Justru Mengaburkan Batas Kehidupan Pribadi? -Sejak sistem kerja jarak jauh semakin umum diterapkan, work from home (WFH) menjadi pilihan yang banyak dibicarakan. Bagi sebagian orang, bekerja dari rumah terasa seperti solusi ideal: tidak perlu menghadapi macet, lebih fleksibel mengatur waktu, dan bisa bekerja dengan pakaian yang lebih nyaman. Namun, di balik kenyamanan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah WFH benar-benar memberi keseimbangan hidup, atau justru mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi?
Pada awalnya, WFH sering terasa menyenangkan. Waktu perjalanan ke kantor bisa dialihkan untuk tidur lebih lama atau mengurus hal-hal pribadi. Rumah yang semula menjadi tempat istirahat kini berubah menjadi ruang kerja. Meja makan, sudut kamar, bahkan sofa, perlahan mengambil peran sebagai kantor sementara. Rutinitas kerja pun terasa lebih santai, setidaknya di permukaan.
Namun, seiring berjalannya waktu, tantangan mulai muncul. Tanpa batas fisik antara kantor dan rumah, jam kerja sering kali menjadi tidak jelas. Pesan pekerjaan bisa masuk kapan saja, bahkan di luar jam kerja. Banyak pekerja merasa “selalu siaga” karena rumah tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat untuk melepaskan diri dari tanggung jawab pekerjaan. Tanpa disadari, waktu istirahat berkurang dan kelelahan mental semakin terasa.
Work from Home: Nyaman atau Justru Mengaburkan Batas Kehidupan Pribadi?
WFH juga membawa dampak pada kehidupan pribadi. Interaksi dengan keluarga bisa terganggu karena tuntutan pekerjaan yang terus berjalan. Sebaliknya, urusan rumah tangga juga kerap menyela fokus kerja. Kondisi ini membuat sebagian pekerja merasa terjebak di antara dua peran sekaligus, tanpa benar-benar bisa menjalani keduanya secara utuh.
Meski demikian, WFH tidak selalu membawa dampak negatif. Bagi mereka yang mampu menetapkan batasan yang jelas, sistem kerja ini justru memberi kesempatan untuk hidup lebih seimbang. Mengatur jam kerja yang tegas, memiliki ruang kerja khusus, dan berani berhenti bekerja saat waktunya selesai menjadi kunci agar WFH tetap sehat secara mental dan emosional.
Pada akhirnya, WFH bukan sekadar soal bekerja dari rumah, melainkan tentang bagaimana seseorang mengelola batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kenyamanan yang ditawarkan bisa berubah menjadi beban jika tidak disertai kesadaran dan pengaturan diri. Dengan batas yang jelas, WFH dapat menjadi pilihan yang manusiawi. Tanpa itu, rumah bisa kehilangan fungsinya sebagai tempat pulang dan beristirahat.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/ngopi-sebelum-kerja-kebiasaan-kecil-yang-menjaga-kewarasan-pekerja/






