Fenomena “Normalizing Excellence”: Saat Kinerja Baik Perlahan Dianggap sebagai Hal yang Seharusnya

0
14
Fenomena

Fenomena “Normalizing Excellence”: Saat Kinerja Baik Perlahan Dianggap sebagai Hal yang Seharusnya – Pernahkah Anda bekerja keras, menyelesaikan tugas sebelum tenggat waktu, membantu rekan kerja, bahkan beberapa kali berhasil menyelamatkan pekerjaan yang hampir berantakan—tetapi lama-kelamaan semua itu justru dianggap biasa?

Tidak ada lagi ucapan “terima kasih”. Tidak ada lagi apresiasi ketika pekerjaan selesai dengan baik. Yang muncul justru ekspektasi baru: karena sebelumnya bisa, maka sekarang pun seharusnya bisa.

Inilah yang bisa disebut sebagai fenomena “Normalizing Excellence”, ketika kinerja yang awalnya dianggap luar biasa perlahan berubah menjadi standar yang dianggap normal.

Di awal, seorang karyawan yang selalu menyelesaikan pekerjaan dengan hasil bagus biasanya mendapat perhatian positif. Ia dianggap memiliki kemampuan, tanggung jawab, dan inisiatif.

Masalah mulai muncul ketika performa tersebut terjadi secara konsisten.

Ketika seseorang berkali-kali memberikan hasil di atas rata-rata, lingkungan kerja bisa tanpa sadar menaikkan standar terhadap orang tersebut. Apa yang dulu dianggap sebagai pencapaian luar biasa akhirnya menjadi sesuatu yang “memang seharusnya dilakukan”.

Hari ini menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dianggap hebat. Beberapa bulan kemudian, menyelesaikan pekerjaan lebih cepat justru dianggap sebagai baseline.

Ironisnya, ketika suatu hari performanya kembali ke tingkat normal karena sedang menghadapi beban kerja atau persoalan pribadi, orang tersebut bisa dianggap mengalami penurunan kinerja.

Padahal mungkin bukan performanya yang menurun. Ekspektasinya yang terus meningkat.

Fenomena ini juga dapat menciptakan pola yang cukup melelahkan.

Ketika ada pekerjaan mendadak, siapa yang biasanya dicari?

Orang yang dianggap paling bisa diandalkan.

Ketika ada proyek sulit, siapa yang kembali dipercaya?

Orang yang sebelumnya berhasil menyelesaikan proyek serupa.

Sekilas, ini terlihat seperti bentuk kepercayaan. Dan memang bisa menjadi sesuatu yang positif.

Namun, jika terus terjadi tanpa adanya pembagian beban yang sehat, “orang andalan” dapat berubah menjadi tempat pembuangan pekerjaan tambahan.

Kemampuan yang seharusnya menjadi modal untuk berkembang justru membuat seseorang mendapatkan semakin banyak tanggung jawab tanpa perubahan yang sepadan dalam kompensasi, posisi, atau kewenangan.

Pada akhirnya, karyawan bisa berada dalam situasi yang aneh: semakin baik kinerjanya, semakin banyak pekerjaan yang datang.

Apresiasi yang Hilang Bisa Mengubah Cara Seseorang Bekerja

Manusia pada dasarnya tidak hanya bekerja demi gaji. Pengakuan bahwa usaha mereka memiliki arti juga memiliki peran penting.

Ketika seseorang terus memberikan performa terbaik tetapi tidak pernah mendapatkan apresiasi, motivasi dapat berubah secara perlahan.

Awalnya mungkin muncul pertanyaan:

“Apa lagi yang bisa saya lakukan?”

Lama-kelamaan berubah menjadi:

“Untuk apa saya melakukan lebih kalau hasilnya tetap dianggap biasa?”

Dari sinilah seseorang bisa mulai melakukan quiet quitting dalam bentuk yang sangat sederhana: bukan berhenti bekerja, tetapi berhenti memberikan energi ekstra.

Ia tetap menyelesaikan tanggung jawabnya. Namun tidak lagi menawarkan bantuan tambahan, mengambil inisiatif di luar tugas, atau berusaha selalu menjadi orang pertama yang turun tangan.

Bukan karena tiba-tiba menjadi malas, melainkan karena batas antara dedikasi dan eksploitasi mulai terasa semakin kabur.

Fenomena “Normalizing Excellence”: Saat Kinerja Baik Perlahan Dianggap sebagai Hal yang Seharusnya

Memiliki standar kerja yang tinggi tentu bukan sesuatu yang buruk.

Perusahaan justru membutuhkan orang-orang yang memiliki standar kualitas tinggi. Namun, standar tersebut harus dibarengi dengan sistem yang masuk akal.

Jika perusahaan menginginkan performa tinggi secara konsisten, maka sumber daya, jumlah tenaga kerja, waktu, kompensasi, dan dukungan yang diberikan juga harus sejalan.

Tidak adil jika karyawan diminta mempertahankan performa luar biasa tanpa batas, sementara apresiasi dan sumber daya yang diberikan tetap berada di level yang sama.

Excellence seharusnya menjadi sesuatu yang dihargai, bukan sesuatu yang kemudian digunakan untuk menetapkan tuntutan tanpa batas.

Di sisi lain, karyawan juga perlu belajar menetapkan batas.

Menjadi pekerja yang dapat diandalkan bukan berarti harus selalu tersedia.

Membantu rekan kerja bukan berarti semua pekerjaan mereka harus diambil alih. Menyelesaikan tugas lebih cepat bukan berarti waktu yang tersisa otomatis menjadi milik pekerjaan tambahan.

Ada kalanya mengatakan, “Saya bisa membantu, tetapi saya perlu menyelesaikan prioritas ini terlebih dahulu,” justru merupakan bentuk profesionalisme.

Batas yang sehat membantu orang lain memahami kapasitas kita secara realistis.

Sebab jika kita selalu mengatakan “bisa” meskipun sebenarnya sudah kewalahan, lingkungan kerja akan menganggap kapasitas tersebut sebagai sesuatu yang normal.