Mengapa Karyawan yang Sering Menjadi “Tempat Bertanya” Bisa Menghambat Perkembangan Tim? – Di hampir setiap tim biasanya ada satu orang yang paling sering dicari ketika muncul masalah. Mau menanyakan proses, mencari informasi lama, menghadapi kasus yang rumit, atau sekadar memastikan sesuatu, semuanya berakhir pada orang yang sama.
Pada awalnya, kondisi ini terlihat positif. Artinya, orang tersebut dipercaya, berpengalaman, dan dianggap mampu memberikan jawaban.
Namun, jika berlangsung terlalu lama, ada masalah yang mungkin tidak disadari: tim menjadi terlalu bergantung pada satu orang.
Karyawan yang sering menjadi tempat bertanya biasanya memang memiliki pengetahuan lebih luas. Karena sudah berpengalaman, mereka bisa menyelesaikan masalah dengan cepat tanpa harus mencari informasi dari awal.
Masalahnya, kemudahan tersebut bisa membuat anggota tim lain terbiasa bertanya daripada mencari atau mempelajari jawabannya sendiri.
Lama-kelamaan muncul pola sederhana: ada masalah, cari orang tersebut. Ada keputusan yang membingungkan, tanyakan kepadanya. Ada pekerjaan yang tidak berjalan, tunggu dia.
Akibatnya, kemampuan tim tidak berkembang secepat yang seharusnya. Ketergantungan seperti ini juga dapat membuat pekerjaan melambat ketika orang yang menjadi rujukan sedang cuti, sakit, pindah posisi, atau memiliki pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
Mengapa Karyawan yang Sering Menjadi “Tempat Bertanya” Bisa Menghambat Perkembangan Tim?
Solusinya tentu bukan meminta karyawan tersebut berhenti membantu.
Justru, pengetahuan yang dimilikinya seharusnya menjadi sesuatu yang bisa dibagikan dan dipelajari oleh lebih banyak orang.
Misalnya, jika pertanyaan yang sama terus muncul, jawabannya bisa mulai didokumentasikan. Jika hanya satu orang yang memahami proses tertentu, anggota tim lain bisa dilibatkan agar memiliki pengalaman langsung.
Dengan begitu, orang yang berpengalaman tetap menjadi sumber pengetahuan, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya jalan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa berbagi pengetahuan merupakan salah satu mekanisme penting yang membantu menghubungkan sistem kerja dengan koordinasi, pembelajaran, dan kinerja organisasi.
Ada perbedaan antara memiliki orang yang sangat ahli dan membuat seluruh pekerjaan bergantung pada orang tersebut.
Yang pertama adalah kekuatan. Yang kedua bisa menjadi risiko.
Tim yang sehat seharusnya membuat pengetahuan bergerak, bukan berhenti pada satu orang. Ketika seseorang tahu lebih banyak, keberhasilannya bukan hanya terlihat dari berapa banyak orang yang datang meminta bantuan, tetapi juga dari berapa banyak orang yang akhirnya mampu mengerjakan sesuatu sendiri.
Pada akhirnya, menjadi “tempat bertanya” memang menunjukkan bahwa seseorang dipercaya. Tetapi jika semua jawaban hanya berada di satu kepala, perusahaan perlu bertanya kembali:
“Apakah kita sedang membangun tim yang semakin pintar, atau hanya semakin bergantung pada satu orang?”






