Ketika Keputusan Terasa Benar, Mengapa Tetap Perlu Memikirkan Kemungkinan Salah?

0
6
Ketika Keputusan Terasa Benar, Mengapa Tetap Perlu Memikirkan Kemungkinan Salah?

Ketika Keputusan Terasa Benar, Mengapa Tetap Perlu Memikirkan Kemungkinan Salah? – Dalam pekerjaan, ada keputusan yang terasa sangat masuk akal. Data mendukung, pengalaman sebelumnya sejalan, dan semua orang di dalam tim tampaknya setuju.

Namun, keputusan yang terasa benar tetap bisa menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai harapan.

Bukan berarti setiap keputusan harus dicurigai. Tetapi, seorang profesional perlu membiasakan diri bertanya: “Apa yang mungkin kita lewatkan?”

Rasa yakin memang dibutuhkan ketika mengambil keputusan. Tanpa keyakinan, seseorang bisa terlalu lama menunggu dan akhirnya tidak melakukan apa-apa.

Masalah muncul ketika rasa yakin membuat kita berhenti melihat kemungkinan lain.

Kita mungkin hanya mencari informasi yang mendukung pilihan sendiri dan mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan adanya risiko.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan penting, tidak ada salahnya melihat persoalan dari sisi sebaliknya.

Kalau keputusan ini ternyata salah, bagian mana yang paling mungkin menjadi penyebabnya?

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.

Ada perbedaan antara berhati-hati dan selalu berpikir buruk.

Memikirkan kemungkinan salah bukan berarti menganggap keputusan yang dibuat pasti gagal. Tujuannya justru untuk menyiapkan diri jika keadaan ternyata berbeda dari perkiraan.

Misalnya, sebuah proyek terlihat berjalan lancar. Daripada hanya bertanya kapan bisa selesai, tim juga bisa memikirkan apa yang dapat menghambatnya.

Dengan begitu, ketika masalah muncul, tim tidak sepenuhnya terkejut.

Ketika Keputusan Terasa Benar, Mengapa Tetap Perlu Memikirkan Kemungkinan Salah?

Tidak semua hasil buruk berarti keputusan awalnya buruk.

Kadang seseorang sudah menggunakan informasi terbaik yang tersedia, mempertimbangkan risiko, dan memilih opsi yang paling masuk akal. Namun, kondisi di luar kendali berubah.

Karena itu, keputusan sebaiknya tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya.

Yang juga penting adalah bagaimana keputusan tersebut dibuat.

Apakah informasinya cukup? Apakah alternatif sudah dipertimbangkan? Apakah ada risiko yang sengaja diabaikan? Apakah orang yang relevan sudah dilibatkan?

Proses yang baik tidak menjamin hasil sempurna, tetapi membuat keputusan lebih mudah dipahami dan dievaluasi.

Hal yang paling sulit terkadang bukan mengambil keputusan, melainkan mengakui bahwa keputusan tersebut perlu diubah.

Padahal, mengubah arah setelah menemukan informasi baru bukan tanda tidak konsisten.

Justru, itu menunjukkan bahwa seseorang lebih memilih memperbaiki keputusan daripada mempertahankan ego.

Pada akhirnya, profesional yang baik bukan orang yang selalu membuat keputusan benar.

Ia adalah orang yang cukup yakin untuk mengambil keputusan, tetapi cukup rendah hati untuk memeriksa kembali ketika keadaan berubah.

Sebab, dalam dunia kerja yang penuh ketidakpastian, kemampuan berpikir ulang sering kali sama pentingnya dengan kemampuan mengambil keputusan.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/mengapa-karyawan-perlu-belajar-menilai-kapan-sebuah-masalah-layak-diperjuangkan/