Fenomena “Career Identity Debt”: Saat Seseorang Terus Mempertahankan Peran yang Sudah Tidak Mewakili Dirinya

0
11
Fenomena

Fenomena “Career Identity Debt”: Saat Seseorang Terus Mempertahankan Peran yang Sudah Tidak Mewakili Dirinya – Ada kalanya seseorang tetap menjalani pekerjaan yang sebenarnya sudah tidak lagi menggambarkan siapa dirinya. Bukan karena pekerjaannya selalu buruk, tetapi karena peran tersebut pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya.

Ia mungkin dikenal sebagai orang yang paling ahli dalam bidang tertentu. Selama bertahun-tahun, identitas profesionalnya dibangun dari peran tersebut. Orang-orang mengenalnya karena kemampuan itu, atasan mempercayainya karena pengalaman tersebut, dan bahkan dirinya sendiri sudah terbiasa melihat dirinya dengan cara yang sama.

Masalah muncul ketika diri seseorang sudah berkembang, tetapi identitas profesionalnya masih tertinggal di masa lalu.

Kondisi ini dapat disebut sebagai “career identity debt”. Sederhananya, seseorang terus mempertahankan identitas atau peran lama meskipun sebenarnya minat, kemampuan, dan tujuan kariernya sudah mulai berubah.

Misalnya, seseorang awalnya sangat menikmati pekerjaan teknis. Setelah beberapa tahun, ia mulai tertarik pada strategi, pengembangan bisnis, atau memimpin tim. Namun, karena selama ini dikenal sebagai orang yang paling kuat di sisi teknis, ia terus menerima pekerjaan yang sama.

Lama-kelamaan muncul perasaan seperti berjalan di tempat.

Ironisnya, justru keberhasilan masa lalu bisa membuat seseorang sulit keluar dari peran tersebut. Ketika kita sudah dikenal sebagai “orang yang paling bisa melakukan X”, mencoba mengembangkan kemampuan baru terkadang terasa seperti meninggalkan sesuatu yang selama ini membuat kita dihargai.

Ada pula kekhawatiran bahwa perubahan akan membuat pengalaman yang sudah dibangun menjadi sia-sia.

Padahal, berkembang bukan berarti harus membuang seluruh identitas profesional yang lama. Pengalaman sebelumnya tetap bisa menjadi fondasi untuk membangun arah baru. Seorang spesialis teknis, misalnya, dapat menggunakan pemahamannya untuk berkembang menjadi pemimpin, konsultan, atau pengambil keputusan strategis.

Fenomena “Career Identity Debt”: Saat Seseorang Terus Mempertahankan Peran yang Sudah Tidak Mewakili Dirinya

Yang perlu berubah bukan selalu keahliannya, tetapi cara keahlian tersebut digunakan.

Karena itu, sesekali seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah pekerjaan yang saya lakukan hari ini masih sesuai dengan arah yang ingin saya tuju? Bukan sekadar apakah pekerjaan tersebut bisa dikerjakan dengan baik.

Pertanyaan ini penting karena kemampuan dan tujuan seseorang tidak selalu berhenti berkembang ketika jabatan atau tanggung jawabnya tetap sama.

Tentu, perubahan tidak harus dilakukan secara drastis. Bisa dimulai dengan mengambil proyek berbeda, mempelajari bidang baru, meminta tanggung jawab tambahan, atau membangun pengalaman yang perlahan mengarah pada peran yang diinginkan.

Pada akhirnya, karier seharusnya menjadi perjalanan yang berkembang bersama diri seseorang, bukan penjara yang membuatnya terus memainkan peran lama hanya karena orang lain sudah terbiasa melihatnya seperti itu.

Meninggalkan sebuah identitas profesional bukan berarti menghapus masa lalu. Justru, pengalaman lama dapat menjadi modal untuk membangun versi karier yang lebih sesuai dengan siapa diri kita sekarang.

Sebab, terkadang yang perlu diubah bukan pekerjaannya terlebih dahulu, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa kita sudah tidak lagi menjadi orang yang sama seperti ketika pertama kali memilih pekerjaan tersebut.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/fenomena-career-scar-ketika-pengalaman-buruk-di-tempat-kerja-diam-diam-mempengaruhi-pilihan-karier/