Mengapa Pujian dari Atasan Bisa Membuat Seseorang Sulit Menilai Dirinya Sendiri?

0
14
Mengapa Pujian dari Atasan Bisa Membuat Seseorang Sulit Menilai Dirinya Sendiri?

Mengapa Pujian dari Atasan Bisa Membuat Seseorang Sulit Menilai Dirinya Sendiri? – Mendapat pujian dari atasan tentu menyenangkan. Setelah bekerja keras, mendengar kalimat seperti “kerjaan kamu bagus” atau “saya suka cara kamu menangani ini” bisa memberikan rasa lega sekaligus membuat seseorang merasa usahanya dihargai.

Namun, ada kondisi ketika pujian yang terlalu sering menjadi sesuatu yang diam-diam memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Bukan karena pujiannya salah, tetapi karena seseorang mulai menggunakan penilaian orang lain sebagai ukuran utama untuk menentukan apakah dirinya sudah cukup baik atau belum.

Pada awalnya, semuanya terasa biasa.

Ketika mendapat apresiasi, seseorang merasa percaya diri. Ketika tidak mendapat komentar apa pun, ia mulai bertanya-tanya.

“Apakah pekerjaan saya kali ini kurang bagus?”

“Kenapa biasanya dipuji, sekarang tidak?”

Lama-kelamaan, penilaian terhadap pekerjaan tidak lagi datang sepenuhnya dari diri sendiri. Seseorang mulai menunggu reaksi atasan untuk mengetahui apakah ia sudah melakukan sesuatu dengan benar.

Padahal, tidak adanya pujian belum tentu berarti pekerjaannya buruk. Bisa saja atasan sedang sibuk, hasil pekerjaan memang sudah dianggap sesuai harapan, atau memang tidak ada alasan khusus untuk memberikan komentar.

Masalah yang lebih besar muncul ketika seseorang mulai bekerja untuk mendapatkan respons tertentu.

Ia mungkin memilih tugas yang lebih mudah mendapatkan apresiasi. Ia menjadi sangat berhati-hati mengambil keputusan karena takut mengecewakan atasan. Bahkan, ketika sebenarnya ia tahu pekerjaannya sudah baik, ia masih membutuhkan orang lain untuk mengatakannya.

Di titik ini, pujian yang awalnya menjadi motivasi bisa berubah menjadi semacam ketergantungan.

Padahal, seorang profesional perlu memiliki kemampuan untuk menilai pekerjaannya sendiri.

Bukan berarti tidak membutuhkan feedback. Feedback tetap penting. Hanya saja, feedback seharusnya menjadi bahan untuk mengevaluasi diri, bukan satu-satunya sumber keyakinan bahwa kita mampu.

Mengapa Pujian dari Atasan Bisa Membuat Seseorang Sulit Menilai Dirinya Sendiri?

Ada kalanya pekerjaan memang bagus meskipun tidak ada yang memuji.

Ada keputusan yang tepat meskipun tidak langsung mendapat pengakuan. Ada perkembangan yang mungkin hanya kita sendiri yang menyadarinya.

Karena itu, penting untuk sesekali bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya merasa pekerjaan ini sudah saya lakukan dengan baik karena memang ada hasilnya, atau karena seseorang mengatakan bahwa pekerjaan saya bagus?

Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu seseorang membangun ukuran keberhasilan yang lebih sehat.

Pada akhirnya, pujian dari atasan tetap merupakan hal yang menyenangkan dan layak dihargai. Tetapi profesional yang matang tidak menjadikan pujian sebagai satu-satunya cermin.

Sebab kita tetap perlu tahu kapan pekerjaan kita memang sudah baik, kapan masih perlu diperbaiki, dan kapan kita boleh merasa bangga—bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengatakannya.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/the-career-recalibration-saat-profesional-perlu-menyetel-ulang-arah-tanpa-harus-memulai-dari-nol/