The Career Evidence Gap: Ketika Gelar dan Jabatan Tidak Lagi Cukup Menjelaskan Kemampuan Seseoran

0
12
The Career Evidence Gap: Ketika Gelar dan Jabatan Tidak Lagi Cukup Menjelaskan Kemampuan Seseoran

The Career Evidence Gap: Ketika Gelar dan Jabatan Tidak Lagi Cukup Menjelaskan Kemampuan Seseoran – Selama bertahun-tahun, gelar pendidikan dan jabatan sering menjadi cara paling sederhana untuk menggambarkan kemampuan seseorang.

Seseorang disebut memiliki latar belakang tertentu karena gelarnya. Pengalamannya kemudian terlihat dari jabatan yang pernah dimiliki. Keduanya memang memberikan gambaran awal, tetapi belum tentu menceritakan apa yang sebenarnya mampu dilakukan seseorang.

Di sinilah muncul career evidence gap: jarak antara apa yang tertulis di CV dan bukti nyata tentang kemampuan seseorang.

Gelar tetap memiliki nilai. Pendidikan menunjukkan bahwa seseorang pernah mempelajari bidang tertentu dan menyelesaikan proses pembelajaran yang terstruktur.

Namun, dunia kerja sering membutuhkan sesuatu yang lebih spesifik.

Dua orang dengan gelar yang sama bisa memiliki kemampuan yang sangat berbeda. Satu orang mungkin terbiasa menyelesaikan masalah nyata, sementara yang lain lebih kuat secara teori. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan yang serupa, tetapi pengalaman menerapkannya berbeda.

Karena itu, semakin banyak proses rekrutmen mulai memperhatikan keterampilan yang bisa dibuktikan secara langsung. NACE, misalnya, mencatat bahwa sekitar 70% perusahaan yang disurvei menggunakan pendekatan skills-based hiring untuk perekrutan entry-level pada 2026.

Hal yang sama berlaku untuk jabatan.

Menjadi manager, lead, atau senior memang menunjukkan pengalaman dan tanggung jawab tertentu. Tetapi nama jabatan saja tidak menjelaskan bagaimana seseorang bekerja.

Apa masalah yang pernah diselesaikan? Seberapa besar tanggung jawabnya? Apa yang berhasil diperbaiki? Bagaimana ia menghadapi situasi sulit?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan gambaran yang jauh lebih konkret.

Seorang profesional mungkin tidak memiliki jabatan yang terdengar luar biasa, tetapi pernah memperbaiki proses yang menghemat banyak waktu tim. Orang lain mungkin memiliki jabatan tinggi, tetapi sulit menjelaskan kontribusi spesifiknya.

Karena itu, jabatan adalah konteks, sedangkan bukti adalah penjelasan.

The Career Evidence Gap: Ketika Gelar dan Jabatan Tidak Lagi Cukup Menjelaskan Kemampuan Seseoran

Bukti kemampuan tidak harus selalu berupa penghargaan besar.

Bisa berupa proyek yang berhasil diselesaikan, proses yang berhasil diperbaiki, masalah yang pernah ditangani, keputusan yang pernah dibuat, atau hasil yang dapat dijelaskan dengan jelas.

Hal sederhana seperti “mengelola proyek” terdengar biasa. Tetapi menjelaskan bagaimana proyek tersebut dikelola, masalah apa yang muncul, dan apa hasil akhirnya membuat pengalaman tersebut jauh lebih bermakna.

Ini juga membantu seseorang memahami nilai dirinya sendiri.

Daripada hanya berkata, “Saya sudah bekerja selama lima tahun,” lebih berguna untuk mengetahui apa yang berubah dalam lima tahun tersebut karena kontribusi kita.

Di tengah perubahan dunia kerja, profesional tidak cukup hanya mengumpulkan gelar, jabatan, atau daftar pengalaman.

Mereka juga perlu mampu menunjukkan hubungan antara pengalaman tersebut dan kemampuan yang benar-benar dimiliki. World Economic Forum mencatat bahwa pengalaman kerja masih menjadi salah satu cara utama perusahaan menilai kemampuan kandidat, sementara penilaian keterampilan secara langsung juga semakin digunakan.

Pada akhirnya, CV mungkin membuat seseorang terlihat memenuhi syarat.

Tetapi bukti membuat orang lain memahami apa yang sebenarnya bisa dilakukan.

Dan ketika semakin banyak profesional memiliki gelar, jabatan, serta daftar skill yang terlihat serupa, kemampuan untuk menunjukkan bukti nyata bisa menjadi bagian penting dari cara seseorang membedakan dirinya.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/mengapa-profesional-perlu-mengetahui-kapan-harus-mempercayai-teknologi-dan-kapan-harus-mempertanyakannya/