Fenomena “Expectation Gap”: Saat Perusahaan dan Karyawan Memiliki Gambaran Berbeda tentang Pekerjaan yang Sama

0
11
Fenomena

Fenomena “Expectation Gap”: Saat Perusahaan dan Karyawan Memiliki Gambaran Berbeda tentang Pekerjaan yang Sama – Sebuah pekerjaan bisa terlihat sangat jelas ketika seseorang membaca deskripsi lowongan. Ada daftar tugas, kualifikasi, target, dan tanggung jawab yang dijelaskan sejak awal.

Namun, setelah beberapa bulan bekerja, seseorang bisa saja berkata, “Ternyata pekerjaannya tidak seperti yang saya bayangkan.”

Di sisi lain, perusahaan mungkin juga merasa bingung. Mereka menganggap karyawan tersebut sudah mengetahui apa yang dibutuhkan dari posisi itu.

Kondisi ketika kedua pihak memiliki gambaran berbeda tentang pekerjaan yang sama inilah yang dapat disebut sebagai “expectation gap”.

Perbedaan ekspektasi sebenarnya cukup wajar. Masalah muncul ketika jaraknya terlalu jauh dan tidak pernah dibicarakan.

Misalnya, sebuah perusahaan merekrut seseorang sebagai marketing dengan harapan ia aktif mencari peluang baru, membangun relasi, sekaligus mengejar target penjualan. Sementara kandidat membayangkan peran tersebut lebih banyak berfokus pada strategi pemasaran dan pengelolaan kampanye.

Keduanya tidak selalu salah.

Mereka hanya masuk ke pekerjaan yang sama dengan gambaran yang berbeda.

Hal serupa bisa terjadi mengenai jam kerja. Perusahaan mungkin menganggap fleksibilitas berarti karyawan dapat menyesuaikan waktu ketika dibutuhkan. Sementara karyawan memahami fleksibilitas sebagai kebebasan menentukan kapan pekerjaan diselesaikan selama target tercapai.

Jika tidak pernah dibicarakan, perbedaan kecil seperti ini bisa berkembang menjadi ketidakpuasan.

Yang menarik, expectation gap tidak hanya terjadi ketika seseorang baru bergabung. Ekspektasi dapat berubah seiring waktu.

Seorang karyawan mungkin awalnya direkrut untuk mengerjakan tugas tertentu. Setelah perusahaan berkembang, tanggung jawabnya bertambah. Namun, perubahan tersebut tidak selalu diikuti pembicaraan ulang mengenai peran dan prioritas.

Akibatnya, perusahaan merasa karyawan kurang fleksibel, sedangkan karyawan merasa perusahaan terus menambahkan pekerjaan di luar kesepakatan awal.

Di sinilah komunikasi menjadi penting, tetapi bukan sekadar komunikasi formal.

Perusahaan perlu menjelaskan bukan hanya apa yang harus dikerjakan, tetapi juga seperti apa keberhasilan dalam posisi tersebut. Karyawan juga perlu berani bertanya ketika ada sesuatu yang belum jelas daripada menebak-nebak berdasarkan asumsi sendiri.

Pertanyaan sederhana seperti “Mana yang paling penting untuk posisi ini?”, “Seberapa jauh tanggung jawab saya?”, atau “Bagaimana prioritasnya jika dua pekerjaan datang bersamaan?” dapat mencegah banyak kesalahpahaman.

Fenomena “Expectation Gap”: Saat Perusahaan dan Karyawan Memiliki Gambaran Berbeda tentang Pekerjaan yang Sama 

Bagi pencari kerja, memahami expectation gap juga berarti tidak hanya membaca judul posisi.

Saat wawancara, penting untuk menggali bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan dalam praktik. Apa tantangan terbesarnya? Bagaimana ukuran keberhasilannya? Seperti apa ritme kerja tim? Dan mengapa posisi tersebut dibutuhkan?

Sementara bagi perusahaan, kejujuran juga penting. Jangan membuat sebuah posisi terdengar sangat ideal hanya agar kandidat tertarik. Jika pekerjaan memiliki tekanan, target tinggi, atau tanggung jawab yang cukup luas, lebih baik disampaikan sejak awal.

Karena ekspektasi yang terlalu indah mungkin berhasil menarik seseorang masuk, tetapi realitas yang berbeda bisa membuatnya cepat ingin keluar.

Pada akhirnya, expectation gap bukan selalu tanda bahwa perusahaan atau karyawan melakukan kesalahan.

Sering kali, masalahnya hanya karena kedua pihak tidak pernah benar-benar menyamakan gambaran tentang pekerjaan tersebut.

Sebuah hubungan kerja akan jauh lebih sehat ketika perusahaan dan karyawan tidak hanya sepakat tentang “apa pekerjaannya”, tetapi juga memahami “seperti apa pekerjaan itu akan dijalani.”

Sebab, semakin jelas ekspektasi sejak awal, semakin kecil kemungkinan seseorang merasa bahwa ia sedang menjalani pekerjaan yang berbeda dari yang pernah ia setujui.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/fenomena-invisible-promotion-saat-tanggung-jawab-naik-tanpa-perubahan-jabatan/