Fenomena “Change Saturation”: Saat Karyawan Tidak Lagi Menolak Perubahan, tetapi Sudah Kelelahan Mengikutinya

0
13
Fenomena

Fenomena “Change Saturation”: Saat Karyawan Tidak Lagi Menolak Perubahan, tetapi Sudah Kelelahan Mengikutinya – Perubahan sering dianggap sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari dunia kerja modern. Perusahaan mengganti sistem, memperbarui struktur organisasi, memperkenalkan teknologi baru, mengubah target, atau meluncurkan berbagai program untuk mengikuti perkembangan bisnis.

Pada awalnya, karyawan mungkin menyambut perubahan tersebut dengan antusias. Namun, jika perubahan datang terlalu sering, ada kondisi yang berbeda mulai muncul: bukan lagi penolakan, melainkan kelelahan.

Fenomena ini dikenal sebagai “change saturation”, yaitu kondisi ketika seseorang sudah terlalu banyak menghadapi perubahan dalam waktu berdekatan sehingga kapasitasnya untuk mengikuti perubahan berikutnya mulai menurun.

Menariknya, karyawan yang mengalami kondisi ini belum tentu secara terang-terangan mengatakan bahwa mereka menolak perubahan.

Mereka mungkin tetap mengikuti pelatihan, menggunakan sistem baru, menghadiri sosialisasi, dan menjalankan instruksi. Namun, semangat untuk benar-benar memahami dan terlibat dalam perubahan tersebut mulai berkurang.

Muncul respons seperti, “Nanti juga berubah lagi.”

Kalimat sederhana tersebut bisa menjadi tanda bahwa seseorang mulai kehilangan keyakinan bahwa perubahan yang sedang dilakukan akan bertahan cukup lama untuk memberikan hasil.

Masalahnya bukan selalu pada perubahan itu sendiri. Bisa jadi karyawan memahami alasan di baliknya. Mereka tahu perusahaan perlu berkembang dan cara kerja memang harus diperbarui.

Tetapi ketika satu perubahan belum selesai dipahami, sudah muncul perubahan berikutnya, orang akhirnya tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi.

Hari ini belajar sistem baru. Beberapa bulan kemudian sistemnya diganti lagi. Struktur tim berubah. Aturan baru muncul. Target diperbarui. Setelah itu ada program lain yang juga membutuhkan perhatian.

Lama-kelamaan, perubahan terasa seperti pekerjaan tambahan yang tidak pernah selesai.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan perlu memahami bahwa kemampuan manusia untuk beradaptasi memiliki batas.

Fenomena “Change Saturation”: Saat Karyawan Tidak Lagi Menolak Perubahan, tetapi Sudah Kelelahan Mengikutinya

Bukan berarti organisasi harus berhenti melakukan perubahan. Justru, perusahaan mungkin perlu lebih selektif dalam menentukan perubahan mana yang benar-benar penting.

Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan program baru. Tidak setiap ide perlu langsung dijadikan proyek. Dan ketika sebuah perubahan sudah dilakukan, memberikan waktu yang cukup agar karyawan memahami serta membentuk kebiasaan baru juga sama pentingnya dengan meluncurkan perubahan tersebut.

Karyawan pun dapat mengambil peran dengan menyampaikan ketika perubahan mulai terasa terlalu padat. Bukan untuk menolak, tetapi untuk memberikan gambaran nyata tentang apa yang sedang terjadi di lapangan.

Sebab, manajemen mungkin melihat beberapa perubahan sebagai proyek yang terpisah. Bagi karyawan, semuanya datang sebagai satu rangkaian perubahan yang harus dijalani secara bersamaan.

Pada akhirnya, perubahan yang berhasil bukan hanya tentang seberapa cepat organisasi bergerak. Ada kalanya perusahaan justru perlu memperlambat langkah sejenak agar orang-orang di dalamnya dapat mengejar.

Karena karyawan yang lelah bukan berarti tidak mau berubah.

Terkadang, mereka hanya membutuhkan waktu untuk berhenti, memahami apa yang sudah berubah, dan menemukan kembali ritme sebelum menghadapi perubahan berikutnya.

Dan mungkin, organisasi yang benar-benar matang bukanlah organisasi yang paling sering berubah, melainkan organisasi yang tahu kapan harus berubah dan kapan harus memberi orang kesempatan untuk bernapas.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/fenomena-process-shadow-aktivitas-tidak-resmi-yang-diam-diam-menjadi-bagian-dari-sistem-kerja/