Ketika Budaya Perusahaan Terlihat Baik di Atas Kertas, tetapi Berbeda dalam Praktiknya

0
12
Ketika Budaya Perusahaan Terlihat Baik di Atas Kertas, tetapi Berbeda dalam Praktiknya

Ketika Budaya Perusahaan Terlihat Baik di Atas Kertas, tetapi Berbeda dalam Praktiknya – Hampir setiap perusahaan ingin dikenal memiliki budaya kerja yang baik. Ada yang menuliskan nilai tentang kolaborasi, keterbukaan, integritas, keseimbangan hidup, hingga kesempatan berkembang. Semua terlihat ideal ketika dibaca di halaman karier atau buku panduan karyawan.

Namun, budaya perusahaan sebenarnya tidak hanya terlihat dari apa yang tertulis.

Budaya justru paling mudah dikenali dari apa yang terjadi ketika tidak ada yang sedang membicarakan nilai-nilai perusahaan tersebut.

Sebuah perusahaan bisa saja mengklaim terbuka terhadap pendapat karyawan. Tetapi jika orang yang menyampaikan kritik justru dianggap sebagai pembuat masalah, pesan yang diterima karyawan tentu berbeda.

Begitu pula dengan perusahaan yang mengutamakan work-life balance, tetapi karyawan merasa harus selalu membalas pesan di luar jam kerja agar dianggap berdedikasi.

Di sinilah muncul jarak antara budaya yang tertulis dan budaya yang benar-benar dirasakan.

Bukan berarti semua perusahaan sengaja memberikan gambaran yang tidak sesuai kenyataan. Terkadang masalahnya muncul karena nilai perusahaan tidak diterjemahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari. Ada nilai yang bagus di atas kertas, tetapi tidak ada contoh perilaku yang jelas untuk menerapkannya.

Akibatnya, karyawan belajar dari apa yang mereka lihat.

Jika perusahaan mengatakan bahwa kesalahan boleh dibicarakan secara terbuka, tetapi setiap kesalahan selalu berakhir dengan mencari siapa yang harus disalahkan, karyawan akan belajar untuk lebih berhati-hati menyampaikan masalah.

Jika perusahaan mengatakan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama, tetapi kesempatan penting selalu diberikan kepada kelompok tertentu, karyawan akan mempercayai pengalaman mereka sendiri dibandingkan slogan perusahaan.

Ketika Budaya Perusahaan Terlihat Baik di Atas Kertas, tetapi Berbeda dalam Praktiknya

Karena itu, membangun budaya yang sehat membutuhkan konsistensi. Nilai perusahaan harus terlihat dalam cara atasan mengambil keputusan, cara tim berkomunikasi, bagaimana konflik diselesaikan, sampai bagaimana karyawan diperlakukan ketika melakukan kesalahan.

Hal sederhana juga bisa menjadi penentu. Misalnya, apakah atasan benar-benar mendengarkan ketika karyawan berbicara? Apakah orang yang pulang tepat waktu dianggap kurang berdedikasi? Apakah perusahaan menghargai hasil kerja tanpa membuat karyawan harus terus-menerus terlihat sibuk?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering kali lebih menggambarkan budaya perusahaan daripada poster motivasi yang ditempel di dinding kantor.

Bagi pencari kerja, kondisi ini juga penting diperhatikan. Jangan hanya melihat daftar nilai perusahaan ketika mencari pekerjaan. Perhatikan bagaimana karyawan berbicara tentang tempat mereka bekerja, bagaimana proses wawancara berlangsung, dan apakah perilaku perusahaan selama proses rekrutmen sesuai dengan nilai yang mereka klaim.

Sebab, budaya perusahaan bukan sekadar sesuatu yang dijanjikan kepada karyawan. Budaya adalah sesuatu yang mereka alami setiap hari.

Pada akhirnya, perusahaan tidak perlu memiliki budaya yang terlihat sempurna. Yang jauh lebih penting adalah adanya kesesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

Karena ketika keduanya berbeda terlalu jauh, karyawan biasanya akan menyadarinya.

Dan ketika itu terjadi, kalimat indah tentang budaya perusahaan tidak lagi memiliki banyak arti dibandingkan pengalaman nyata orang-orang yang menjalankannya setiap hari.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/fenomena-experience-blind-spot-saat-pengalaman-justru-membuat-seseorang-tidak-melihat-kemungkinan-baru/