Ketika Karyawan Terjebak karena Terlalu Cepat Mengatakan, “Saya Bisa”

0
16
Ketika Karyawan Terjebak karena Terlalu Cepat Mengatakan,

Ketika Karyawan Terjebak karena Terlalu Cepat Mengatakan, “Saya Bisa” – Di dunia kerja, kemampuan untuk mengatakan “saya bisa” sering dianggap sebagai hal positif. Karyawan yang percaya diri, mau mengambil tantangan, dan tidak mudah mengeluh biasanya terlihat sebagai orang yang dapat diandalkan.

Namun, ada kondisi ketika kalimat sederhana tersebut justru menjadi awal dari masalah.

Seseorang menerima tugas baru, lalu spontan berkata, “Saya bisa.” Padahal, ia belum benar-benar mengetahui seberapa besar pekerjaan tersebut, berapa banyak waktu yang dibutuhkan, atau apakah tugas itu akan mengganggu tanggung jawab yang sudah ada.

Awalnya mungkin hanya satu pekerjaan tambahan.

Kemudian datang pekerjaan berikutnya. Karena sebelumnya selalu mengatakan bisa, orang-orang mulai terbiasa mempercayakan berbagai hal kepadanya.

Lama-kelamaan, kemampuan yang seharusnya menjadi keunggulan berubah menjadi alasan mengapa beban kerja terus bertambah.

Masalahnya bukan karena seseorang terlalu kompeten. Justru kemampuan tersebut memang layak dihargai. Yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan menerima pekerjaan tanpa terlebih dahulu memahami kapasitas dan prioritas.

Ada perbedaan antara “saya mampu mengerjakan” dan “saya mampu mengerjakan sekarang dengan kualitas yang baik.”

Seseorang mungkin memiliki kemampuan untuk menyelesaikan sebuah tugas, tetapi bukan berarti ia memiliki waktu untuk mengerjakannya saat itu juga.

Di sinilah banyak karyawan mengalami kesulitan. Mereka takut dianggap tidak mampu jika mengatakan bahwa pekerjaan tersebut perlu waktu, bantuan, atau penyesuaian prioritas.

Padahal, mengatakan “saya perlu melihat dulu kapasitasnya” bukan berarti tidak kompeten.

Justru, itu menunjukkan bahwa seseorang memahami konsekuensi dari sebuah komitmen.

Daripada langsung mengatakan “saya bisa”, seseorang dapat memberikan respons yang lebih realistis. Misalnya, “Saya bisa bantu, tetapi saya perlu menyelesaikan pekerjaan A terlebih dahulu. Mana yang harus saya prioritaskan?”

Kalimat seperti ini tetap menunjukkan kemauan membantu tanpa memberikan janji yang belum tentu bisa dipenuhi.

Hal lain yang penting adalah memahami bahwa tidak semua kesempatan harus langsung diterima. Ada pekerjaan yang memang dapat menjadi pengalaman berharga, tetapi ada juga pekerjaan yang hanya menambah beban tanpa memberikan perkembangan berarti.

Ketika Karyawan Terjebak karena Terlalu Cepat Mengatakan, “Saya Bisa”

Karena itu, sebelum mengatakan iya, ada baiknya mempertimbangkan beberapa hal: apakah tugas ini memang menjadi bagian dari peran saya, apa prioritasnya, kapan harus selesai, dan apakah saya memiliki sumber daya yang cukup?

Bagi perusahaan dan atasan, hal ini juga perlu diperhatikan. Karyawan yang selalu mengatakan “bisa” belum tentu memiliki kapasitas tidak terbatas.

Jika seseorang terus diberi pekerjaan hanya karena selama ini selalu bersedia, organisasi sebenarnya berisiko menghukum orang yang paling bertanggung jawab dengan semakin banyak pekerjaan.

Pada akhirnya, profesionalisme bukan tentang selalu mengatakan “saya bisa”.

Profesionalisme juga berarti mampu mengatakan, “Saya bisa, tetapi…”

Ada kalanya “tetapi” tersebut berarti membutuhkan waktu lebih banyak. Ada kalanya berarti membutuhkan bantuan. Dan terkadang, artinya pekerjaan lain harus diprioritaskan ulang.

Kemampuan mengatakan “saya bisa” memang penting.

Namun, kemampuan mengetahui kapan harus mengatakan “belum”, “tidak sekarang”, atau “saya membutuhkan bantuan” juga sama pentingnya.

Sebab, menjadi orang yang dapat diandalkan bukan berarti harus selalu tersedia untuk mengerjakan semuanya.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/fenomena-expectation-gap-saat-perusahaan-dan-karyawan-memiliki-gambaran-berbeda-tentang-pekerjaan-yang-sama/