Fenomena “Responsibility Drift”: Saat Tanggung Jawab Perlahan Berpindah Tanpa Pernah Disepakati

0
5
Fenomena

Fenomena “Responsibility Drift”: Saat Tanggung Jawab Perlahan Berpindah Tanpa Pernah Disepakati – Di tempat kerja, pembagian tanggung jawab biasanya terlihat cukup jelas di atas kertas. Setiap orang memiliki jabatan, tugas, dan target masing-masing. Namun, dalam praktiknya, batas tersebut tidak selalu bertahan seperti yang direncanakan.

Ada pekerjaan yang awalnya menjadi tanggung jawab seseorang, tetapi perlahan mulai dikerjakan orang lain. Ada tugas yang seharusnya berada di satu divisi, tetapi karena sering kali dibantu oleh tim lain, akhirnya dianggap sebagai bagian dari pekerjaan mereka. Ada pula seseorang yang terus menangani sebuah persoalan hanya karena ia yang pertama kali mengambil inisiatif menyelesaikannya.

Fenomena inilah yang dapat disebut sebagai “responsibility drift”, yaitu kondisi ketika tanggung jawab secara perlahan bergeser dari satu orang atau tim kepada pihak lain tanpa pernah ada keputusan atau kesepakatan resmi.

Masalahnya, pergeseran tersebut sering terjadi secara alami. Tidak ada rapat khusus yang mengatakan bahwa tanggung jawab telah berpindah. Tidak ada dokumen yang diperbarui. Semuanya bermula dari hal sederhana: seseorang membantu karena rekannya sedang sibuk, mengambil alih sementara karena ada masalah mendesak, atau mengerjakan tugas tertentu karena dianggap lebih cepat jika dirinya yang menangani.

Sekali atau dua kali, hal tersebut tentu bukan masalah. Justru sikap saling membantu merupakan bagian penting dari kerja sama. Persoalan muncul ketika bantuan sementara berubah menjadi kebiasaan permanen.

Seseorang yang awalnya hanya membantu membuat laporan akhirnya selalu diminta membuat laporan. Karyawan yang pernah menangani keluhan pelanggan mulai dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas semua masalah serupa. Tim yang pernah membantu proyek divisi lain akhirnya terus menerima pekerjaan tambahan karena dianggap paling memahami prosesnya.

Fenomena “Responsibility Drift”: Saat Tanggung Jawab Perlahan Berpindah Tanpa Pernah Disepakati

Dampaknya tidak selalu langsung terlihat. Pada awalnya, pekerjaan mungkin tetap selesai. Bahkan, organisasi bisa merasa bahwa semuanya berjalan baik. Namun, dalam jangka panjang, responsibility drift dapat menciptakan beban kerja yang tidak seimbang.

Orang yang terus menerima tanggung jawab tambahan bisa mengalami kelelahan karena pekerjaannya semakin melebar tanpa adanya penyesuaian target, waktu, maupun sumber daya. Sementara itu, pihak yang seharusnya memiliki tanggung jawab tersebut dapat menjadi semakin bergantung kepada orang lain.

Masalah lainnya adalah munculnya kebingungan ketika terjadi kesalahan.

Jika sebuah tugas sudah berpindah tangan secara informal, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab ketika hasilnya tidak sesuai harapan? Orang yang mengerjakan? Orang yang memiliki jabatan terkait? Atau pihak yang pertama kali memberikan tugas tersebut?

Pertanyaan seperti ini sering muncul ketika pembagian tanggung jawab tidak pernah diperjelas.

Responsibility drift juga dapat menghambat perkembangan profesional. Seseorang mungkin menghabiskan banyak waktu mengurus pekerjaan yang sebenarnya bukan bagian utama dari perannya. Akibatnya, ia memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang seharusnya mendukung jenjang kariernya.

Ironisnya, orang yang paling sering mengalami kondisi ini justru biasanya adalah mereka yang dianggap kompeten dan dapat diandalkan. Karena mampu menyelesaikan berbagai persoalan, mereka menjadi pilihan pertama ketika ada pekerjaan yang belum jelas pemiliknya.

Namun, menjadi orang yang dapat diandalkan tidak berarti harus selalu mengambil alih semua hal.

Profesional yang matang perlu mampu membedakan antara membantu dan mengambil tanggung jawab. Membantu rekan kerja menyelesaikan masalah adalah hal yang positif. Tetapi jika bantuan tersebut terus berulang, sudah waktunya membicarakan kembali siapa yang sebenarnya memiliki tanggung jawab utama.

Di sinilah komunikasi menjadi penting. Tidak harus dilakukan melalui percakapan yang formal atau konfrontatif. Terkadang cukup dengan pertanyaan sederhana seperti, “Untuk pekerjaan ini, siapa yang menjadi pemilik utamanya?” atau “Apakah saya hanya membantu kali ini, atau tugas ini memang akan menjadi bagian dari tanggung jawab saya ke depannya?”

Pertanyaan seperti itu membantu membuat batas menjadi lebih jelas.

Bagi organisasi, mencegah responsibility drift bukan berarti membuat setiap orang bekerja secara kaku sesuai deskripsi pekerjaan. Dunia kerja membutuhkan fleksibilitas, dan tidak semua situasi dapat diprediksi sejak awal. Namun, ketika sebuah tanggung jawab berubah secara permanen, perubahan tersebut sebaiknya diakui dan dikelola dengan jelas.

Jika seseorang mendapatkan tanggung jawab baru secara rutin, misalnya, organisasi dapat meninjau kembali target, pembagian pekerjaan, wewenang, bahkan struktur tim. Dengan begitu, tambahan tanggung jawab tidak hanya menjadi “pekerjaan ekstra” yang terus menumpuk tanpa pengakuan.

Pada akhirnya, kerja sama yang sehat bukan berarti semua orang mengerjakan segala sesuatu. Kerja sama yang sehat justru membutuhkan kejelasan mengenai siapa melakukan apa, siapa yang mengambil keputusan, dan siapa yang bertanggung jawab terhadap hasil akhirnya.

“Responsibility drift” mengingatkan kita bahwa tanggung jawab tidak selalu berpindah melalui keputusan resmi. Terkadang, ia berpindah sedikit demi sedikit melalui kebiasaan, bantuan, dan asumsi yang tidak pernah dibicarakan. Jika dibiarkan terlalu lama, pergeseran kecil tersebut dapat menciptakan ketidakseimbangan yang besar.

Karena itu, profesional dan organisasi perlu sesekali berhenti dan melihat kembali pembagian pekerjaan mereka. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki ruang yang cukup untuk menjalankan perannya dengan baik. Sebab, pekerjaan yang sehat bukan hanya tentang menyelesaikan sebanyak mungkin tugas, tetapi juga memastikan bahwa tanggung jawab berada di tempat yang tepat.

Baca Jugahttps://blog.kitakerja.co.id/fenomena-alignment-tax-harga-yang-harus-dibayar-akibat-kurangnya-keselarasan-tim/