Mengapa Perusahaan Semakin Sulit Menilai Siapa yang Benar-Benar Kompeten?

0
3
Mengapa Perusahaan Semakin Sulit Menilai Siapa yang Benar-Benar Kompeten?

Mengapa Perusahaan Semakin Sulit Menilai Siapa yang Benar-Benar Kompeten? -Dulu, perusahaan bisa lebih mudah menggunakan gelar pendidikan, lama pengalaman, atau nama perusahaan sebelumnya sebagai gambaran kemampuan seseorang. Sekarang, cara tersebut semakin sulit dijadikan patokan utama.

Seseorang dengan pengalaman lima tahun belum tentu lebih siap daripada orang yang baru dua tahun bekerja. Begitu juga dengan kandidat yang memiliki banyak sertifikat belum tentu mampu menerapkan pengetahuannya ketika menghadapi masalah nyata.

Karena itu, pertanyaan yang semakin penting bagi perusahaan bukan lagi sekadar “Apa yang pernah dilakukan orang ini?”, tetapi “Apa yang benar-benar bisa dia lakukan?”

CV dapat menunjukkan pengalaman, jabatan, pendidikan, dan berbagai skill yang dimiliki seseorang. Namun, CV tidak selalu mampu menggambarkan bagaimana seseorang bekerja ketika menghadapi situasi yang sebenarnya.

Seseorang bisa menulis bahwa dirinya mampu memimpin tim. Tetapi bagaimana ia bersikap ketika anggota tim mengalami konflik? Bisa saja seseorang mengaku memiliki kemampuan analisis yang kuat, tetapi belum tentu mampu menentukan informasi mana yang penting ketika datanya tidak lengkap.

Di sinilah proses penilaian kompetensi menjadi rumit.

Perusahaan perlu melihat bukti dari pekerjaan, bukan hanya klaim yang terlihat bagus di atas kertas. Pendekatan berbasis kemampuan nyata memang semakin mendapat perhatian dalam dunia kerja, tetapi penerapannya tetap membutuhkan sistem penilaian yang jelas dan konsisten.

Dua orang pewawancara bisa melihat kandidat yang sama dengan sudut pandang berbeda. Satu orang mungkin menganggap kandidat sangat meyakinkan, sementara yang lain melihat masih banyak kekurangan.

Riset Testlify dan SHRM Labs pada 2026 bahkan menemukan bahwa hanya sebagian kecil pemimpin HR yang sangat yakin proses rekrutmen mereka benar-benar memilih kandidat terbaik. Banyak responden mengatakan hasilnya dapat berubah tergantung siapa yang melakukan wawancara atau bagaimana proses penilaiannya dilakukan.

Artinya, perusahaan tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka sudah menerapkan skills-based hiring. Mereka juga perlu memastikan bahwa cara mengukur skill tersebut memang mampu memberikan gambaran yang masuk akal.

Mengapa Perusahaan Semakin Sulit Menilai Siapa yang Benar-Benar Kompeten?

Pada akhirnya, kemampuan seseorang paling mudah terlihat ketika ia berhadapan dengan pekerjaan yang nyata.

Bagaimana ia menyelesaikan masalah? Bagaimana ia berkomunikasi ketika terjadi kesalahan? Apakah ia mampu menerima masukan? Apakah ia tahu kapan harus bertanya? Dan yang tidak kalah penting, apakah ia bisa menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering memberikan gambaran yang lebih nyata dibandingkan sekadar melihat daftar kemampuan di CV.

Karena itu, perusahaan perlu semakin cermat membedakan antara orang yang terlihat kompeten dan orang yang memang mampu bekerja dengan baik.

Di dunia kerja yang terus berubah, kemampuan tidak cukup hanya diklaim. Kemampuan perlu terlihat melalui tindakan, hasil, dan cara seseorang menghadapi situasi nyata.

Mungkin tantangan terbesar perusahaan saat ini bukan menemukan orang yang memiliki banyak skill, tetapi menemukan cara yang tepat untuk membuktikan bahwa skill tersebut benar-benar ada.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/saat-teknologi-mengurangi-pekerjaan-manual-mengapa-kemampuan-mengambil-keputusan-menjadi-semakin-penting/’