The Data Shadow: Saat Jejak Digital Mulai Mengubah Cara Orang Berperilaku di Tempat Kerja – Setiap hari, tanpa terlalu disadari, kita meninggalkan banyak jejak digital di tempat kerja.
Berapa lama sebuah pekerjaan diselesaikan, kapan seseorang aktif, berapa banyak tugas yang ditutup, bagaimana sebuah email ditulis, sampai aktivitas apa yang dilakukan melalui sistem perusahaan. Hal-hal yang dulu mungkin hanya diketahui oleh diri sendiri atau atasan, sekarang semakin mudah tercatat dan dianalisis.
Data tersebut memang bisa membantu perusahaan memahami pekerjaan dengan lebih baik. Namun, ada efek lain yang sering luput diperhatikan: orang bisa mulai mengubah perilakunya karena sadar bahwa hampir semua aktivitasnya meninggalkan jejak.
Bayangkan seseorang yang tahu bahwa kecepatan responsnya tercatat.
Ia mungkin mulai membalas pesan lebih cepat, bahkan ketika sebenarnya sedang mengerjakan sesuatu yang lebih penting. Bukan karena pesan tersebut prioritas, tetapi karena tidak ingin terlihat lambat.
Atau seseorang yang tahu aktivitas kerjanya sedang diukur mungkin mulai memilih pekerjaan yang mudah terlihat hasilnya dibandingkan pekerjaan penting yang membutuhkan waktu lebih lama.
Di sinilah data mulai memiliki pengaruh yang lebih besar daripada sekadar menjadi angka.
Data dapat mengubah apa yang dipilih seseorang untuk dikerjakan, kapan ia mengerjakannya, dan bagaimana ia ingin terlihat di mata organisasi.
ILO dalam kajian 2026 mencatat bahwa teknologi AI dan sistem pemantauan di tempat kerja dapat meningkatkan efisiensi, tetapi juga membawa risiko seperti berkurangnya otonomi, meningkatnya intensitas kerja, serta kekhawatiran mengenai privasi dan penggunaan data.
The Data Shadow: Saat Jejak Digital Mulai Mengubah Cara Orang Berperilaku di Tempat Kerja
Masalah lain muncul ketika perusahaan terlalu mengandalkan sesuatu yang mudah diukur.
Jumlah tugas selesai memang bisa dihitung. Waktu respons bisa dicatat. Aktivitas sistem bisa direkam.
Tetapi bagaimana dengan seseorang yang menghabiskan dua jam membantu rekan kerja memahami masalah yang rumit? Atau orang yang menemukan potensi kesalahan sebelum kesalahan tersebut benar-benar terjadi?
Tidak semua kontribusi meninggalkan angka yang menarik di dashboard.
OECD juga mencatat bahwa sistem manajemen berbasis algoritma semakin digunakan untuk menginstruksikan, memantau, dan mengevaluasi pekerjaan. Sistem semacam ini dapat membantu pengambilan keputusan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap pekerja.
Karena itu, data seharusnya menjadi petunjuk, bukan satu-satunya cara untuk memahami seseorang.
Yang menarik, pengaruh data tidak selalu datang dari aturan resmi.
Cukup dengan mengetahui bahwa aktivitas tercatat, seseorang bisa mulai mengatur perilakunya sendiri.
Ia mungkin lebih berhati-hati dalam mengirim pesan. Lebih sering memastikan status pekerjaannya terlihat. Lebih memilih aktivitas yang mudah dibuktikan. Bahkan mungkin merasa harus selalu terlihat sibuk.
Padahal, bekerja dengan baik dan terlihat bekerja adalah dua hal yang berbeda.
Data memang bisa membantu organisasi melihat pola yang sebelumnya sulit diketahui. Namun, semakin banyak data dikumpulkan, semakin penting pula pertanyaan tentang untuk apa data tersebut digunakan dan bagaimana orang yang datanya dikumpulkan diperlakukan. ILO juga menekankan pentingnya transparansi, tujuan penggunaan yang jelas, serta perlindungan terhadap data pekerja.
Pada akhirnya, tantangan dunia kerja bukan sekadar mengumpulkan lebih banyak data.
Tantangannya adalah memastikan bahwa data membantu manusia bekerja lebih baik, bukan membuat manusia terus-menerus bekerja demi menghasilkan data yang terlihat baik.
Karena ketika setiap aktivitas meninggalkan jejak, yang perlu dijaga bukan hanya akurasi datanya, tetapi juga kebebasan seseorang untuk tetap bekerja secara manusiawi.
Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/the-meaningless-task-effect-saat-pekerjaan-selesai-tetapi-tidak-terasa-berarti/






