The Skill Erosion Problem: Ketika Terlalu Banyak Bantuan Justru Membuat Kemampuan Menurun

0
14
The Skill Erosion Problem: Ketika Terlalu Banyak Bantuan Justru Membuat Kemampuan Menurun
Ilustrasi

The Skill Erosion Problem: Ketika Terlalu Banyak Bantuan Justru Membuat Kemampuan Menurun – Teknologi dibuat untuk membantu manusia bekerja lebih mudah. Kita bisa mencari informasi dalam hitungan detik, menggunakan aplikasi untuk menghitung sesuatu, meminta AI menyusun tulisan, hingga mengandalkan berbagai sistem untuk mengingat pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan sendiri.

Masalahnya, bantuan yang terlalu mudah juga bisa membuat kita semakin jarang menggunakan kemampuan tertentu.

Inilah yang bisa disebut sebagai The Skill Erosion Problem: ketika sebuah kemampuan perlahan melemah bukan karena kita tidak pernah memilikinya, tetapi karena terlalu lama tidak menggunakannya.

Bayangkan seseorang yang dulu terbiasa menyusun laporan sendiri. Ia memahami bagaimana mencari data, membandingkan angka, menentukan informasi yang relevan, lalu menyusun kesimpulan.

Setelah menggunakan berbagai alat bantu, proses tersebut menjadi jauh lebih sederhana. Data sudah dirangkum, tulisan sudah dibuatkan, bahkan kesimpulan awal sudah tersedia.

Pekerjaan memang menjadi lebih cepat.

Namun, setelah beberapa waktu, muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah orang tersebut masih mampu melakukan semuanya tanpa bantuan?

Tidak selalu.

Kemampuan yang jarang digunakan bisa menjadi kurang terlatih. Sama seperti kemampuan fisik yang menurun ketika tidak pernah digunakan, kemampuan berpikir juga membutuhkan praktik.

Hal ini tidak berarti teknologi buruk. Justru teknologi dapat membantu seseorang menghemat waktu dan menangani pekerjaan dengan lebih baik. Tantangannya adalah memastikan bahwa bantuan tersebut tidak sepenuhnya menggantikan proses belajar dan berpikir.

Salah satu perubahan yang paling mudah terlihat adalah ketika seseorang mulai terbiasa mencari jawaban sebelum mencoba memahami masalahnya sendiri.

Ketika ada persoalan, kita langsung bertanya kepada mesin. Ketika harus menulis sesuatu, kita langsung meminta bantuan. Ketika menemukan angka yang membingungkan, kita menyerahkan perhitungannya kepada sistem.

Lama-kelamaan, proses berpikir yang biasanya terjadi sebelum menggunakan bantuan menjadi semakin pendek.

Padahal, proses mencoba, salah, membandingkan, dan memperbaiki itulah yang sering membentuk kemampuan.

ILO dalam kajian terbarunya mengenai perubahan keterampilan akibat AI menekankan bahwa adopsi teknologi justru meningkatkan kebutuhan terhadap kemampuan kognitif tingkat tinggi, kemampuan sosial, adaptasi, dan agensi manusia.

Artinya, semakin banyak pekerjaan yang bisa dibantu teknologi, semakin penting pula kemampuan manusia untuk memahami mengapa sebuah jawaban masuk akal atau justru perlu dipertanyakan.

The Skill Erosion Problem: Ketika Terlalu Banyak Bantuan Justru Membuat Kemampuan Menurun 

Skill erosion tidak selalu terlihat jelas. Tidak ada alarm yang berbunyi ketika sebuah kemampuan mulai melemah.

Namun, ada beberapa tanda yang bisa diperhatikan.

Misalnya, seseorang mulai merasa tidak nyaman ketika harus mengerjakan sesuatu tanpa bantuan. Atau ia bisa menghasilkan pekerjaan dengan cepat, tetapi kesulitan menjelaskan alasan di balik hasil tersebut.

Tanda lainnya adalah ketika seseorang terlalu percaya pada hasil dari sebuah sistem hanya karena hasilnya terlihat meyakinkan.

Di sinilah masalah sebenarnya muncul.

Bukan karena kita menggunakan bantuan, tetapi karena kita kehilangan kemampuan untuk memeriksa bantuan tersebut.

AI dan berbagai teknologi dapat menghasilkan output dengan sangat cepat, tetapi keputusan tentang apakah output itu benar, relevan, aman, atau sesuai konteks tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Perubahan ini juga menjadi alasan mengapa kemampuan judgment semakin banyak dibicarakan dalam dunia kerja.

Solusinya bukan kembali mengerjakan semuanya secara manual.

Justru, profesional perlu belajar menggunakan teknologi dengan cara yang membuat kemampuan mereka tetap berkembang.

Sesekali, coba kerjakan sesuatu tanpa bantuan untuk mengetahui apakah kemampuan dasarnya masih ada. Ketika menggunakan AI, jangan hanya menerima jawabannya. Periksa, bandingkan, dan tanyakan apakah hasil tersebut benar-benar sesuai dengan situasi.

Untuk pekerjaan tertentu, gunakan teknologi sebagai partner berpikir, bukan sebagai pengganti proses berpikir.

Karena pada akhirnya, kemampuan profesional bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mendapatkan jawaban. Yang tidak kalah penting adalah apakah ia masih mampu memahami masalah ketika tidak ada sistem yang memberikan jawaban.

Teknologi seharusnya membuat manusia menjadi lebih mampu, bukan semakin bergantung.

Sebab ketika sebuah kemampuan terlalu lama diserahkan kepada bantuan, yang hilang bukan hanya waktu untuk berlatih. Perlahan, kita juga bisa kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/the-meaningless-task-effect-saat-pekerjaan-selesai-tetapi-tidak-terasa-berarti/