The Last-Mile Problem di Tempat Kerja: Mengapa Pekerjaan Hampir Selesai Justru Sering Berhenti di Ujung?

0
4
The Last-Mile Problem di Tempat Kerja: Mengapa Pekerjaan Hampir Selesai Justru Sering Berhenti di Ujung?

The Last-Mile Problem di Tempat Kerja: Mengapa Pekerjaan Hampir Selesai Justru Sering Berhenti di Ujung? – Ada pekerjaan yang terasa sudah hampir selesai, tetapi entah mengapa tidak pernah benar-benar selesai.

Presentasi sudah dibuat, tetapi belum dikirim. Laporan sudah lengkap, tetapi masih menunggu satu pengecekan. Proyek sudah berjalan sesuai rencana, tetapi bagian terakhir terus tertunda. Bahkan pekerjaan yang sebenarnya hanya membutuhkan sedikit langkah tambahan bisa bertahan berhari-hari karena selalu ada hal lain yang dianggap lebih mendesak.

Inilah yang bisa disebut sebagai the last-mile problem: bagian terakhir dari sebuah pekerjaan justru menjadi bagian yang paling sulit diselesaikan.

Ketika sebuah pekerjaan baru dimulai, biasanya ada energi yang cukup besar. Tujuan masih jelas, semangat masih tinggi, dan hasil akhirnya terlihat menarik.

Namun setelah sebagian besar pekerjaan selesai, situasinya berubah.

Yang tersisa sering kali bukan pekerjaan besar, melainkan detail-detail kecil. Mengecek ulang angka, meminta persetujuan, memperbaiki satu bagian, mengirim hasil, memastikan orang berikutnya sudah menerima informasi, atau menyelesaikan administrasi yang terlihat sepele.

Masalahnya, pekerjaan kecil seperti ini mudah dianggap bisa dilakukan nanti.

Akhirnya, pekerjaan yang sebenarnya sudah 90 persen selesai justru tidak pernah mencapai 100 persen.

Ada perbedaan besar antara hampir selesai dan selesai.

Sebuah pekerjaan mungkin sudah menghasilkan sebagian besar output yang dibutuhkan, tetapi jika masih ada satu langkah yang menentukan apakah hasil tersebut bisa digunakan, maka pekerjaan itu sebenarnya belum selesai.

Misalnya, seorang karyawan sudah menyelesaikan analisis untuk tim. Namun hasilnya belum dikirim kepada pihak yang membutuhkan. Dari sudut pandangnya, pekerjaan utama sudah selesai.

Dari sudut pandang tim, manfaatnya belum benar-benar muncul.

Di sinilah pekerjaan bisa kehilangan momentum. Hasil sudah tersedia, tetapi belum sampai ke tempat yang membutuhkan hasil tersebut.

Dalam konteks organisasi yang lebih luas, masalah semacam ini juga dikenal sebagai kesenjangan antara perencanaan dan eksekusi. Riset dan pembahasan bisnis terbaru menunjukkan bahwa organisasi bisa memiliki strategi, teknologi, atau proses yang baik, tetapi tetap kesulitan ketika semuanya harus diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

The Last-Mile Problem di Tempat Kerja: Mengapa Pekerjaan Hampir Selesai Justru Sering Berhenti di Ujung? 

Hal lain yang membuat pekerjaan berhenti di ujung adalah ketidakjelasan mengenai siapa yang harus menyelesaikan langkah terakhir.

Semua orang merasa bagian mereka sudah selesai.

Orang pertama sudah membuat dokumen. Orang kedua sudah memberikan data. Orang ketiga sudah melakukan pengecekan. Tetapi tidak ada yang benar-benar memastikan bahwa hasil akhirnya sudah dikirim, digunakan, atau diterima dengan baik.

Tidak ada yang sengaja mengabaikan pekerjaan tersebut. Hanya saja, tanggung jawab terakhirnya berada di area abu-abu.

Karena itu, menyelesaikan pekerjaan bukan hanya soal menyelesaikan tugas sendiri. Kadang, profesionalisme juga terlihat dari kemampuan memastikan bahwa pekerjaan benar-benar mencapai tujuan akhirnya.

Ada kebiasaan sederhana yang bisa membantu: sebelum menganggap sebuah pekerjaan selesai, tanyakan satu hal.

“Setelah saya selesai, apa yang harus terjadi berikutnya?”

Pertanyaan ini membuat kita melihat pekerjaan bukan sebagai daftar tugas, tetapi sebagai rangkaian proses.

Jika jawabannya adalah “harus dikirim”, kirim. Jika harus mendapat persetujuan, pastikan siapa yang menyetujui. Jika hasilnya harus digunakan oleh tim lain, pastikan mereka sudah menerimanya.

Dengan begitu, kita tidak berhenti hanya karena bagian kita sudah selesai.

Pada akhirnya, banyak pekerjaan tidak gagal karena bagian utamanya dikerjakan dengan buruk. Pekerjaan justru bisa kehilangan dampak karena langkah terakhirnya tidak pernah benar-benar dituntaskan.

Dan mungkin, salah satu bentuk profesionalisme yang sering tidak terlihat adalah kemampuan untuk tidak meninggalkan pekerjaan dalam kondisi “hampir selesai”.

Karena bagi orang yang menunggu hasilnya, 90 persen selesai tetap berarti belum selesai.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/mengapa-ada-orang-yang-terlihat-tenang-ketika-semua-orang-mulai-panik/