The Skill Layering: Mengapa Keahlian Baru Tidak Selalu Menggantikan Keahlian Lama

0
6
The Skill Layering: Mengapa Keahlian Baru Tidak Selalu Menggantikan Keahlian Lama

The Skill Layering: Mengapa Keahlian Baru Tidak Selalu Menggantikan Keahlian Lama – Ada anggapan bahwa ketika dunia kerja berubah, kita harus meninggalkan keahlian lama dan menggantinya dengan kemampuan yang lebih baru.

Padahal, tidak selalu begitu.

Seseorang yang sudah bertahun-tahun memiliki kemampuan menulis, misalnya, tidak harus membuang kemampuan tersebut ketika mulai belajar menggunakan AI. Justru, kemampuan menulis yang sudah dimiliki bisa menjadi dasar untuk menggunakan teknologi tersebut dengan lebih baik.

Di sinilah konsep skill layering menjadi menarik: keahlian baru tidak selalu menggantikan keahlian lama, tetapi bisa ditambahkan di atasnya sehingga kemampuan seseorang menjadi lebih luas.

Perubahan teknologi memang membuat beberapa tugas dilakukan dengan cara berbeda. Namun, kemampuan dasar seperti berpikir kritis, memahami konteks, berkomunikasi, bekerja sama, dan memecahkan masalah tetap dibutuhkan.

ILO dalam laporan terbarunya juga menekankan bahwa perubahan teknologi meningkatkan kebutuhan terhadap kombinasi keterampilan digital, kognitif, dan sosial-emosional.

Artinya, belajar sesuatu yang baru tidak selalu berarti mulai dari nol.

Seorang desainer yang belajar menggunakan AI tetap membutuhkan pemahaman tentang desain. Seorang marketer yang mempelajari analitik tetap membutuhkan kemampuan memahami perilaku konsumen. Seorang manajer yang belajar teknologi baru tetap membutuhkan kemampuan membaca manusia.

Teknologi mungkin menambah alatnya, tetapi pengalaman lama membantu menentukan bagaimana alat tersebut digunakan.

Kadang seseorang sebenarnya sudah memiliki banyak kemampuan, tetapi semuanya berdiri sendiri.

Ia bisa menggunakan teknologi, bisa berkomunikasi, dan memahami pekerjaannya. Namun belum tentu tahu bagaimana menggabungkan semuanya.

Padahal, nilai sebuah kemampuan sering kali muncul ketika beberapa keahlian bertemu.

Kemampuan analisis yang digabung dengan pemahaman bisnis akan menghasilkan cara melihat masalah yang berbeda. Kemampuan komunikasi yang ditambah kemampuan membaca data juga bisa membuat seseorang menjelaskan sesuatu dengan lebih kuat.

Jadi, perkembangan karier tidak selalu berbentuk mengganti skill A dengan skill B.

Bisa saja bentuknya adalah A + B + C.

The Skill Layering: Mengapa Keahlian Baru Tidak Selalu Menggantikan Keahlian Lama

Skill layering juga mengingatkan bahwa belajar tidak harus selalu berarti mengejar setiap kemampuan yang sedang populer.

Tidak semua orang perlu menguasai semuanya.

Yang lebih penting adalah melihat apa yang sudah kita miliki, lalu bertanya: “Kemampuan baru apa yang bisa membuat kemampuan lama saya menjadi lebih berguna?”

Dengan cara berpikir seperti itu, proses belajar terasa lebih masuk akal. Kita tidak terus-menerus merasa tertinggal hanya karena ada teknologi atau keterampilan baru yang muncul.

Kita justru membangun kemampuan secara bertahap.

Pada akhirnya, karier seseorang mungkin tidak berkembang karena ia meninggalkan semua yang lama dan menggantinya dengan sesuatu yang baru.

Bisa jadi, ia berkembang karena tahu bagaimana menambahkan lapisan baru tanpa kehilangan fondasi yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.

Sebab keahlian yang kuat bukan selalu yang paling baru.

Kadang, justru keahlian yang bisa dipadukan dengan hal baru yang memiliki nilai paling panjang.

Baca Juga : https://blog.kitakerja.co.id/the-professional-lag-ketika-cara-kita-bekerja-tertinggal-dari-perubahan-pekerjaan/